didatangi orang gila

Didatangi Orang Gila, Penonton Layar Tancap di Pemalang Heboh

Pemalang – Pagelaran nonton bareng layar tancap di Alun-alun Kabupaten Pemalang, Jumat (5/4/2019) malam nyaris kisruh saat tenda penonton tiba-tiba didatangi orang gila. Lelaki berpenampilan dekil, dengan celana pendek, rambut awut-awutan, sambil berbicara tak keruan berjalan di tengah kerumunan penonton.

Sontak penonton kaget, tak sedikit yang ketakutan. Bahkan Albi, bocah tiga tahun yang semula duduk manis, langsung menangis dan meminta gendong ayahnya setelah melihat orang gila itu.
Penonton mulai heboh, Muslihah (38), ibu Albi, sempat bingung mengapa ada orang gila masuk ke tenda penonton.

Lho kok ana wong edan mlebu,” ujarnya.

Bukan hanya Muslihah yang tampak kebingungan, petugas Satpol PP juga kewalahan mengusir orang gila yang ndablek tidak mau keluar, bahkan terus masuk ke tempat acara. Suasana mulai tenang, setelah ada seseorang yang menjelaskan jika orang gila tersebut merupakan salah satu pemain dalam pertunjukan rakyat yang tampil.

Memang malam itu warga Kabupaten Pemalang dihibur dengan kehadiran layar tancap dan pertunjukan rakyat yang ditampilkan Sanggar Sekar Purbaya dari Desa Surajaya, Kecamatan Pemalang. Mengangkat cerita “Sing Edan Dadi Waras, Sing Waras Dadi EdanKarena Pemilu”, mereka menyampaikan pesan jangan sampai Pemilu membuat masyarakat berubah, apalagi tercerai berai. Meski berbeda pilihan, warga harus tetap bersatu.

Pagelaran layar tancap dipadukan dengan penampilan pertunjukan rakyat malam itu pun mendapat apresiasi dari Ammar (21), mahasiswa asal Makassar yang tengah magang di Pemalang. Dia bersama rekan kampusnya sering menggunakan layar tancap sebagai media sosialisasi kepada masyarakat. Tapi malam itu dia pendapati tontonan yang berbeda, karena adanya pertunjukan rakyat.

“Layar tancap menarik dari segi sensasi. Nonton bioskop dari segi sensasi sudah terkesan biasa, tapi kalau ini menarik bagi masyarakat untuk kumpul bersama,” ujar Ammar.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Setyo Irawan menyampaikan, publikasi tidak hanya dilakukan melalui televisi, radio, media cetak, maupun media mainstream lainnya. Tapi juga bisa dilakukan melalui layar tancap dan media tradisional. Bahkan keberadaan layar tancap mempunyai keunggulan di tengah kehidupan masyarakat yang belakangan cenderung individualistis.

“Ternyata media publikasi itu juga bisa melalui layar tancap dan kesenian tradisional. Terutama pada tahun 1980-an, di mana waktu itu televisi hanya TVRI, radio RRI saja, koran juga terbatas. Padahal keberadaan layar tancap mempunyai keunggulan, di mana kita bisa berkumpul bersama, bertukar cerita dan informasi antartetangga atau dengan yang hadir lainnya,” jelas Setyo.

Dia berharap masyarakat yang hadir malam itu bisa memahami pesan yang disampaikan melalui iklan layanan masyarakat. Salah satunya ajakan menggunakan hak pilih pada pemilu mendatang.

“Semua pesan-pesan pada iklan layanan masyarakat yang positif agar dapat dihayati, dipahami dan dilaksanakan. Apalagi dalam waktu dekat ini ada pemilu. Kami harapkan seluruh masyarakat bisa hadir untuk memberikan suaranya,” tandasnya. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *