Derasnya Perkembangan Teknologi, Tak Halangi Peduli Budaya Tradisional

Derasnya Perkembangan Teknologi, Tak Halangi Peduli Budaya Tradisional

PURBALINGGA – Bersyukur istrinya sembuh dari sakit, seorang kepala desa yang baru terpilih membagi-bagikan uang kepada warganya. Hal tersebut membuat masyarakat senang. Namun, rivalnya saat pencalonan kepala desa, Leman, justru merasa panas.

Dia berusaha memrovokasi warga dengan menyebarkan isu jika uang yang dibagi tersebut hasil dari memelihara tuyul. Dengan menggunakan aplikasi edit foto, Leman dan tim suksesnya Darsih, berusaha membuat foto lurah yang sedang menggendong tuyul.

Mengko sampeyan foto saka mburi, inyong sing ngedit. Ning HP-ku kan ana aplikasi setan-setanan, garek tak tambahi gambar tuyul (nanti kamu foto dari belakang, saya yang mengubah. Di HP saya ada aplikasi hantu-hantuan, tinggal saya tambahi gambar tuyul),” ujar Darsih kepada Leman.

Setelah sukses mengambil foto dan mengeditnya, Darsih dan Leman menyebarkan melalui media sosial. Gemparlah seluruh penduduk desa melihat gambar itu. Mereka kemudian mendatangi rumah kepala desa untuk mengembalikan uang sambil meneriakkan kata-kata kasar. Kepala desa pun merasa sakit hati diperlakukan seperti itu, karena niat baiknya dibalas dengan caci maki.

Tapi setiap perbuatan busuk pasti akan terkuak. Aksi Leman dan Darsih ketahuan oleh salah satu penduduk desa. Akhirnya keduanya dibawa ke kepala desa untuk mempertanggungjawabkan yang telah dilakukan. Warga merasa menyesal, karena udah terlanjur mengembalikan uangnya.

Cerita berjudul Ngingu Tuyul tersebut diangkat Tim Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Brebes, pada Seleksi Pertunjukan Rakyat Tahun 2019, di Taman Pendidikan Purbasari Pancuran Mas, Kabupaten Purbalingga (7/7/2019). Seleksi tersebut merupakan putaran terakhir, dengan menampilkan empat tim dari Kabupaten Jepara, Brebes, Magelang dan Purbalingga.

Berbeda dengan tema yang diangkat oleh Brebes tentang hoaks, Tim FK Metra Kabupaten Magelang menampilkan cerita tentang pentingnya persatuan dengan judul Crah Agawe Bubrah, Rukun Agawe Santosa.

Mereka mengisahkan warga Dusun Mangunsari yang aman, damai dan sejahtera. Untuk menangkal pengaruh budaya asing, para pemuda aktif berolahraga dan berkesenian. Menyambut peringatan hari jadi kabupaten, bupati menunjuk warga dusun menampilkan beladiri dan tari.

Kedua tim pun berlatih. Sayangnya, tim beladiri yang merasa tempat latihannya tidak memenuhi syarat, iri dengan tim tari dengan tempat latihan yang lebih luas dan bagus. Singkat cerita, keduanya berebut tempat latihan, bahkan sampat terjadi keributan. Perseteruan baru selesai ketika lurah setempat turun langsung melerai dan menekankan jika warga haris tetap menghargai, menghormati, dan menjaga persatuan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah melalui Kepala Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Akhmad Syaifillah menyampaikan apresiasi kepada para pejuang budaya tersebut. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, masih ada anak bangsa yang peduli dengan kebudayaan tradisional. Tidak hanya menjaga kelestarian kebudayaan, namun juga membantu pemerintah untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

“Pada era milenial yang serba digital, banyak yang sudah abai pada kesenian tradisional, bahkan ada yang tidak mengenal. Tetapi saya senang, masih ada anak-anak bangsa yang peduli pada kesenian tradisional, khususnya pertunjukan rakyat. Oleh karenanya, pertunjukan rakyat FK Metra diharapkan mampu menjadi media alternatif untuk mengedukasi dan menyampaikan segala informasi kepada masyarakat,” ujar Fillah. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *