IMG-20191123-WA0024

Rambah Blora, Nonton Layar Tancap Dimeriahkan Penampilan Anak-anak

BLORA – Setelah mengelilingi sejumlah wilayah di Jawa Tengah, pagelaran nonton bareng layar tancap dan pertunjukan rakyat sampai di Kabupaten Blora. Lokasi yang dipilih untuk pagelaran pada Jumat (22/11/2019) adalah Lapangan Tuk Butung Kecamatan Cepu.
Berbeda dengan sebelumnya, pertunjukan rakyat di tempat itu menampilkan kebolehan anak-anak. Penontonnya pun banyak dari kalangan anak-anak. Meski hari semakin larut, semangat mereka tak mengendor.
Lihat saja Kayla, penari termuda yang baru berusia empat tahun. Dia tampak percaya diri membawakan tarian semut. Meski latihan yang dijalani baru tiga kali, Kayla tetap luwes menari tanpa rasa malu, walaupun ada beberapa gerakan yang terlupa. Kostumnya yang lucu, lengkap dengan sungut semut di atas kepala, membuat bocah itu semakin menggemaskan.
Oma Priyo (59), nenek Kayla menceritakan, cucunya begitu antusias untuk tampil pada malam ini. Dia tidak rewel, padahal untuk mwnunjang penampilannya Kayla sudah mulai dandan dari pukul 14.00.
“Alhamdulillah, Kayla tidak rewel, walaupun udah mulai dandan dari jam 2 siang (pukul 14.00) tadi. Ini barusan minta dipakaikan lipstik lagi, karena habis makan,” ujar Oma Priyo.
Selain tarian semut, beberapa tarian juga ditampilkan oleh anak-anak, antara lain tari mayong, jaranan dan jaipong. Para penonton sangat terhibur dengan kelucuan yang ditampilkan anak-anak. Tak hanya dihibur dengan pertunjukan rakyat, malam itu warga Cepu seolah dibawa bernostalgia dengan pertunjukan layar tancap, dengan menampilkan film perjuangan Jenderal Soedirman.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah melalui Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Setyo Irawan menyampaikan, kegiatan seperti itu bisa mengenalkan kembali kesenian tradisional kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Apalagi dengan pengaruh budaya luar yang semakin kuat, sehingga sebagian masyarakat mulai abai dengan kesenian tradisional.
“Kegiatan semacam ini untuk mendidik masyarakat, agar tidak selalu terpengaruh dengan dunia digital yang banyak sekali faktor negatifnya. Sehingga anak-anak sekarang tidak mengenal kesenian-kesenian tradisional. Jadi kegiatan ini tidak hanya untuk melestarikan budaya, tapi juga untuk penyebaran informasi,” ujar Setyo. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)
 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *