Ajarkan Anak Mem-“Branding” Dirinya

Semarang – Bagi sebagian remaja, bermedia sosial merupakan hal yang wajib dilakukan. Tak sekadar untuk eksistensi diri, mereka berlomba-lomba mencari follower agar dinilai nge-hits.

Pemerhati anak dari Yayasan Setara, Tsaniatus Solihah mengakui perilaku bermedia sosial di kalangan remaja tak bisa dibatasi. Banyaknya follower di kalangan mereka pun menjadi sesuatu yang bergengsi. Tak mengherankan jika para remaja berlomba-lomba mencari follower hanya untuk gengsi dan menunjukkan eksistensinya. Bahkan banyak di antara follower-nya yang tidak mereka kenal.

“Saya pernah bertemu siswa, dia minta di-follow instagramnya. Akhirnya saya berteman. Dia katakan, follower-nya sudah 1.200-an. Jumlah segitu saja dia katakan masih sedikit. Sementara, saat itu follower saya 60-an. Saat saya tanya, dari follower-nya apakah mereka kenal semua, ternyata tidak,” bebernya, saat dialog interaktif Generasi Hebat Cerdas Bermedia, di Studio Mini Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (19/9).

Diakui, tantangan di era digital ini berbeda dibandingkan saat anak belum mengenal gadget. Dulu, orang tua mudah mengetahui keberadaan anak, berteman dengan siapa, dan apa yang dilakukan. Tapi saat ini, meski si anak berada di kamar, orang tua belum tentu mengetahui anaknya tengah melakukan apa, siapa saja temannya di media sosial, apa temannya yang di media sosial itu baik, dan sebagainya.

“Bahayanya jika anak tidak cerdas bermedia sosial. Contohnya, mereka tidak mengerti bagaimana menggunakan internet dengan baik, bagaimana meng-upload foto. Ini luar biasa sekali, dan ini susah diawasi orang tua,” sorot wanita yang biasa dipanggil Ika ini.

Psikolog dari Undip Dr Hastaning Sakti menambahkan setiap orang membutuhkan komunikasi. Setiap orang memiliki hak untuk tampil, eksis, dan mengaktualisasikan diri, apa pun cara dan medianya. Terlebih, saat ini tersedia media yang mudah diakses.

“Permasalahannya, bagaimana orang itu mengaktualisasikan diri. Saat anak men-download foto misalnya, mereka terkadang kurang mengetahui ada sisi yang belum tersentuh. Karena itu, tugas orang tua untuk mengajarkan anaknya mem-branding dirinya,” bebernya.

Menurut Hasta, orang tua harus bisa membuat anaknya cerdas bermedia sosial. Sebab orang yang cerdas pasti akan menghargai dirinya. Saat akan meng-upload sesuatu di media sosial, dia sudah memikirkan akibat, reaksi yang timbul dari posting-an yang dia lakukan.

“Siapkan mental anak dulu, ditatar dulu. Belantara medsos seperti ini. Pegangannya seperti apa. Ini komitmen. Ketidak tidak punya komitmen dengan dirinya sendiri, mau cerdas bagaimana. Contohnya berenang, kan harus belajar dulu, nanti kalau masuk ke air tangannya dibuka dulu, nafasnya dihembuskan, dan lain-lain. Jadi, persiapannya harus kuat dulu,” terangnya.

Kepala Bidang Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah, Drs Sri Winarna MSi mengatakan, kontrol anak tetap dipegang orang tua. Orang tua dituntut melek teknologi, dan mengerti betul informasi yang berguna untuk anak. Sebab, media sosial bagaikan pisau bermata dua, di mana ada aspek positif dan negatif yang ditimbulkan.

“Kuncinya dari keluarga. Bagaimana membangun kualitas keluarga agar bisa bermedia sosial dengan baik pula,” tandas Sri Winarna. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn