Awasi Bukan Berarti Curigai

Ungaran – Malam bertambah larut. Dinginnya udara pun makin menembus tulang. Terlebih, di Desa Lerep Kabupaten Semarang yang berada pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan laut.

Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangat masyarakat desa tersebut untuk datang di lapangan depan Balai Desa Lerep, Jumat (27/7) malam. Mereka hendak menonton bareng layar tancap dengan film berjudul Jenderal Sudirman, pada Kegiatan Nonton Bareng masyarakat Kabupaten Semarang di Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat.

Musik campursari sebagai pembuka menghangatkan suasana malam itu. Tak sedikit warga yang ikut bernyanyi atau sekadar berjoget. Suasana semakin semarak saat Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Semarang tampil menghibur. Meski dipoles dengan guyonan, namun lawakan mereka tetap sarat makna.

Lihat saja saat penonton diajak untuk ikut mengawasi penggunaan teknologi informasi buat anak-anak. Apalagi, pesatnya perkembangan teknologi berdampak pada penggunaan telepon genggam di kalangan anak-anak. Bahkan tak sedikit anak di bawah lima tahun yang sudah mengenal handphone (HP).

Tuku HP ya mulai kelas 4 utawa kelas 6, nanging aplikasi kudu dibatasi. Cah saiki akeh sing mengakses film-film berisi porno. Mila bapak ibu kudu berperan ndidik anak, sesuai kapasitas lan terus diawasi,” sorot Dower, tokoh yang tampil malam itu.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi, Sudarman SH MM. Dia menyampaikan bahaya bila film diakses oleh konsumen yang bukan semestinya.

“Berbahaya jika film yang seharusnya diperuntukan untuk usia 17 tahun ke atas ditonton oleh anak SD,” ujarnya.

Sudarman menambahkan, orang tua dan guru sangat berperan dalam memberikan literasi kepada anak dan remaja terkait penggunaan media digital dan internet. Namun mereka juga mesti mengajarkan tanggung jawab penggunaannya.

“Mengawasi bukan berarti mencurigai dan membatasi total gerak-gerik anak (saat berselancar) di internet,” imbuhnya.

Kepala Desa Lerep Sumaryadi mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, acara semacam itu merupakan media yang efektif untuk menyampaikan informasi pembangunan dan pesan-pesan.

“Apalagi akhir-akhir ini beredar berita hoaks. Saya yakin dengan cara seperti ini, dengan mengangkat kearifan lokal, kita bisa menyampaikan pesan-pesan secara efektif,” ujarnya.

Selain itu, dengan pemutaran film yang sarat nilai perjuangan tersebut diharapkan bisa memupuk jiwa patriotisme generasi muda, yang dinilainya semakin memudar.

“Dengan film perjuangan ini, diharapkan jiwa patriotisme generasi muda mulai tumbuh dan berkembang,” tandas Sumaryadi. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)