Berkomunikasilah Secara “Utuh”

Klaten – Pesatnya perkembangan teknologi informasi berdampak pada perubahan pola komunikasi di masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat berkomunikasi melalui pembicaraan langsung, kemudian beralih melalui suara, tulisan, media cetak, elektronik, hingga sekarang komunikasi pun bisa dilakukan melalui media sosial.

Hal itu disampaikan Ketua Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Zack (Septiaji) pada acara Sarasehan Admin Media Sosial Kabupaten Klaten di Pendapa Monumen Joeang 45 Kabupaten Klaten, Kamis (1/11) malam. Menurutnya, dengan komunikasi yang semakin canggih, bahkan dalam hitungan detik bisa mengetahui informasi dari belahan dunia lain, ternyata berpengaruh pula terhadap interaksi sosial masyarakat.

“Teknologi telah mengubah banyak hal. Sekarang kita bahkan tidak bisa lepas dari gadget lebih dari 10 menit. Ternyata teknologi komunikasi melalui media sosial tidak cukup kuat untuk membangun komunikasi yang baik antarorang. Guyub adalah solusi penting dalam peradaban berbangsa untuk dapat melewati era digital ini tanpa masalah yang merisaukan kita,” ungkapnya.

Zack menjelaskan, komunikasi melalui media sosial merupakan komunikasi yang “tidak utuh” karena tidak langsung melihat lawan komunikasi. Terbukti, banyak orang salah faham hanya karena salah persepsi di media sosial. Jadi, jangan beranggapan berkomunikasi melalui media sosial itu sudah cukup. Pertemuan tatap muka tetap harus dilakukan. Berkomunikasilah secara utuh.

Permusuhan atau “tawuran” di dunia digital, katanya, mudah terjadi. Padahal, tawuran digital sangat berbahaya karena merusak isi kepala dan pola pikir. Banyak orang yang berpendidikan tinggi sekelas profesor tetapi justru ikut menyebarkan berita hoaks. Ini membuktikan tingkat pendidikan tidak menjamin kewarasan dalam bermedia sosial.

“Media sosial saat ini mayoritas terisi dengan konten yang negatif. Tahun 2018 tercatat sekitar 80-90 berita hoaks per bulan. Apalagi mendekati Pilpres 2019, di mana semakin banyak berita hoaks politik yang beredar. Bahaya hoaks tidak hanya fitnah, tetapi juga menyebabkan perselisihan yang seharusnya tidak perlu,” terangnya.

Ditambahkan, hoaks menghancurkan peradaban dan merusak sisi kemanusiaan. Upaya untuk melawan hoaks tidak cukup dengan satu pendekatan. Jika ada berita yang beredar hendaknya diperiksa dulu kebenarannya. Sampaikan pula pentingnya bermedia sosial yang baik agar tidak mudah diadu domba. Jangan hanya diam jika ada berita negatif, namun aktif melaporkan dan ikut menjernihkan.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah, Dadang Somantri. Menurutnya, bermedia sosial harus dilakukan dengan baik dan bijak.

Dadang menambahkan, mengatasi hoaks tidak bisa dengan hanya memblokir, tetapi harus diimbangi dengan pemuatan berita atau informasi positif.

“Jika ada kesempatan meluruskan, ya harus kita luruskan,” tandasnya. (Fu/ Ul, Diskominfo Jateng)