Dorong Tiap Desa Miliki Buah Khas

Magelang – Raut wajah Suryanti Margaputri terlihat semringah ketika namanya disebut sebagai Juara I Lomba Fruit Curving alias mengukir buah dan sayuran, Minggu (10/3/2019). Meski sempat merasa karyanya kurang rapi, ternyata ukiran semangka berbentuk bunga dan ikan 3D miliknya berhasil mengalahkan kreasi ukiran milik 30 peserta lainnya.

“Yang pasti seneng banget, nggak percaya dan bersyukur jangan lupa. Harapannya ke depan dapat lebih baik lagi. Semoga ada acara seperti ini yang lebih baik juga,” terang mahasiswi semester IV Politeknik Indonusa Surakarta tersebut.

Menurut juri lomba dari Indonesia Chef Association Badan Pengurus Daerah Jateng Hendro Purwanto, ukiran buah karya Suryanti dinilai terbaik setelah lolos penjurian yang cukup ketat. Indikatornya, tingkat kerumitan ukiran serta kreativitas peserta dalam membentuk dan menyajikan karyanya.

Bahkan, agar hasil karyanya terlihat lebih hidup, beberapa peserta menambahkan bahan selain buah dan sayuran sebagai media kreasinya. Alhasil, beraneka ragam ukiran buah dan sayuran milik peserta lomba membuat para juri terpukau.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemprov Jateng, Suryo Banendro menjelaskan, fruit curving menjadi salah satu lomba dalam Festival Buah Jateng 2019 di pelataran Candi Borobudur, Magelang. Selain fruit curving, ada pula lomba mewarnai bagi anak-anak TK dan PAUD, serta pameran buah-buahan yang bisa dibeli langsung oleh pengunjung. Keseluruhan acara festival yang dihelat sejak tanggal 9 Maret 2019 tersebut dimaksudkan untuk mengenalkan buah lokal Jawa Tengah kepada masyarakat.

“Jawa Tengah kaya akan buah lokal. Salah satu media untuk menyosialisasikan, untuk mendorong perkembangan buah lokal Jateng ini diantaranya melalui lomba ukir buah ini,” ujarnya.

Suryo menambahkan pemerintah provinsi melalui Distanbun terus berupaya mendukung para petani buah di Jawa Tengah dalam pengembangan produksi buah lokal untuk konsumsi masyarakat. Bahkan, beberapa buah lokal dari provinsi ini sudah diekspor ke luar negeri. Mulai dari buah naga dari Wonogiri, alpukat, pepaya, dan salak, menjadi komoditas yang telah diterima masyarakat internasional.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, yang hadir pada penutupan festival itu juga mengingatkan masyarakat untuk gemar makan buah lokal. Bahkan, setiap desa diharapkan bisa memiliki buah khasnya sendiri.

“Mudah-mudahan ini juga menjadi kompetisi nantinya, di setiap daerah. Mungkin akan bisa merangsang nantinya one village one product,khususnya produk buah-buahan,” tandasnya. (Tu/Tn/Ul, Diskominfo Jateng)