FK Metra, Diseminasikan Informasi Tanpa “Bahasa Langit”

Semarang – Sosialisasi melalui seminar atau forum pertemuan dengan mendatangkan narasumber para pakar atau pemangku kebijakan, itu sudah biasa dilakukan. Tapi, apa cara semacam itu cukup efektif diterima masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di perdesaan?

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri menyampaikan pertemuan dengan tatap muka bisa jadi hanya efektif di awal pertemuan, di mana konsentrasi peserta masih tinggi. Namun, saat sudah berlangsung beberapa jam, konsentrasi peserta mulai menurun, dan kemampuan otak untuk menyerap penjelasan narasumber pun berkurang.

Karenanya, sudah saatnya metoda sosialisasi diubah, salah satunya dengan memanfaatkan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra). Melalui forum tersebut, informasi dan pesan, khususnya pesan pembangunan, disampaikan dengan kemasan kesenian lokal masing-masing daerah. Bahasa yang digunakan pun disesuaikan dengan bahasa masyarakat setempat, sehingga mereka lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.

“Sasaran akhirnya, di samping terus meningkatkan dan mengembangkan budaya kearifan lokal, juga ikut berperan langsung dalam pembangunan. Bagaimana mereka meliterasikan program pembangunan, bahkan sebelum kegiatan dilaksanakan,” beber Dadang, saat Rakor FK Metra, di Aula Lantai IV Diskominfo Provinsi Jawa Tengah, Rabu (21/2).

Mengingat pentingnya metoda yang tepat untuk sosialisasi tersebut, dia berharap semakin banyak instansi yang memanfaatkan FK Metra untuk sosialisasi pembangunan. Misalnya, di bidang kesehatan, FK Metra bisa menyampaikan mengenai pentingnya IVA Test, penurunan angka pernikahan dini, dan lain-lain. Di bidang sosial, forum tersebut bisa juga untuk menyosialisasikan mengenai beras sejahtera (rastra).

“FK Metra pun mesti terus mengembangkan diri. Sehingga dapat mendiseminasikan informasi kepada masyarakat. Bahkan kalau perlu menyerak informasi juga dari masyarakat,” terang Dadang.

Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Jateng, Evi Sulistyorini menambahkan, FK Metra sangat penting sebagai media menyampaikan informasi kepada masyarakat, di samping juga untuk nguri-uribudaya.

“Dengan gaya yang khas, pesan lebih tersampaikan, terutama untuk masyarakat ‘bawah’. Sebab, lebih human being, tanpa ‘bahasa langit’ yang susah difahami masyarakat ‘bawah’,” katanya.

Sementara itu, Ketua FK Metra Provinsi Jawa Tengah St Sukirno mengungkapkan perkembangan FK Metra belakangan ini sangat bagus. Jika 10 tahun lalu hanya ada tujuh FK Metra tingkat kabupaten/ kota di Jateng, tapi sekarang sudah mencapai 31 FK Metra kabupaten/ kota, atau kurang empat daerah yang belum membentuk FK Metra.

“Artinya, kepala daerah sudah semakin sadar terhadap pentingnya peran FK Metra. Cita-citra FK Metra bukan utk melestarikan budaya, tapi memanfaatkan kesenian utk menyampaikan program pembangunan,” tandasnya. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn