“Gubernur Ganjar” pun Tampil di Seleksi FK Metra

Kudus – Apa jadinya jika pedagang asongan yang berjualan tepi jalan yang tengah dibangun ditarik “setoran” oleh orang yang mengaku utusan aparat? Ada yang berusaha menawar agar besaran uang yang diminta separuhnya saja.

Aja sepuluh ewu (Rp 10.000) to pak. Separone wae, limang ewu (Rp 5.000),” ujar salah satu pedangang setengah merayu.

Tapi, ada pula uang dengan tegas menolaknya. “Wegah aku. Oalah mbakyu, aja gelem. Iki jenenge pungli,” kata pedagang lainnya.

Dialog tersebut terlihat dalam pertunjukan rakyat yang ditampilkan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Grobogan pada Seleksi/ Festival Pertunjukan Rakyat FK Metra Tingkat Jawa Tengah di Taman Budaya Kabupaten Kudus, Selasa (16/5). Dikemas dalam ketoprak dengan lakon Kapatuh, mereka mengungkap berbagai persoalan sosial yang ada. Mulai dari pungli, makelar proyek, korupsi, kemiskinan, hingga perselingkuhan. Semuanya diramu dengan bahasa keseharian dan disisipi  komedi.

Lain lagi yang ditampilkan FK Metra Kota Surakarta. Dari segi penuturan, mereka menggunakan bahasa Jawa yang lebih halus, khas kota yang dikenal dengan keratonnya tersebut. Kendati begitu, tetap saja ada pesan sosial yang disampaikan. Seperti, konflik dalam satu perkumpulan yang membahas pembangunan di suatu wilayah.

Salah satu warga mengecam pertemuan tersebut karena pembahasannya hanya seputar pembangunan jalan. Sementara, jalan yang dibangun terus saja rusak. Pembangunannya pun separuh-separuh, tak pernah tuntas. Akhirnya disepakati jika anggaran desa hendak digunakan untuk perbaikan jalan, mestinya dibangun secara tuntas, tidak separuh-separuh, dan jangan dikorupsi.

Sing jelas, mbangun desa inggih mbangun kamulyan,” tegasnya.

Ya, meski ditampilkan dalam balutan kesenian tradisional, tapi sarat pesan sosial yang sesuai dengan kondisi saat ini. Terutama, yang sesuai tema lomba Jateng Gayeng, Mboten Korupsi Mboten Ngapusi. Baik dalam pengentasan kemiskinan, antikorupsi, antipungli, pengurusan sertifikat atau akta, Kartu Sehat Jateng, disiplin berlalu lintas, penggunaan APBDes, hingga Kredit Mitra 25 dari Bank Jateng. Bahkan, untuk menarik perhatian juri yabg terdiri dari Mas Ton, Daniel Hakiki, dan Handry TM, FK Metra dari Kabupaten Semarang menghadirkan tokoh “Gubernur Jateng Ganjar Pranowo” dalam sosialisasinya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri menyampaikan FK Metra menjadi alternatif penyampai informasi kepada masyarakat dengan mengedepankan kearifan lokal masing-masing wilayah. Dengan begitu, materi yang disampaikan lebih mudah terserap.

“Meski di abad digital yang luar biasa canggih, kalau tidak ada sentuhan olah rasa budaya dan kearifan lokal, kita akan ‘kesasar’. Kegiatan ini tidak hanya untuk memenuhi kewajiban, tapi bagian pemeliharaan kearifan lokal sekaligus memberikan informasi yang mencerdaskan masyarakat,” bebernya.

Ditambahkan, seleksi diadakan di tiga lokasi. Yakni, di Kabupaten Kudus, Kabupaten Purworejo (17/5), dan Kabupaten Brebes (19/5). Selanjutnya, pemenang lomba di tingkat provinsi yang finalnya diselenggarakan di Kota Semarang setelah lebaran, akan mengikuti kompetisi serupa di tingkat nasional. Kendati begitu Dadang mengingatkan menang kalah dalam kompetisi merupakan hal yang biasa. Namun prinsipnya jangan pernah berhenti membawakan suguhan yang mencerdaskan masyarakat serta membangun NKRI yang kuat.

Hal senada disampaikan Sekretaris FK Metra Provinsi Jawa Tengah Daniel Hakiki. Menurutnya kemenangan bukan tujuan utama yang hendak dicapai dari lomba tersebut. Tapi bagaimana mengoptimalkan kesenian tradisional di masing-masing wilayah dan menyampaikan informasi yang dapat diterima dengan baik dan benar oleh masyarakat.

Untuk itu, dia mendorong FK Metra kabupaten/ kota agar dapat membangun kerja sama dengan berbagai pihak, khususnya organisasi perangkat daerah (OPD) dalam diseminasi informasi. Misalnya, kerja sama dengan dinas pendidikan dalam sosialisasi wajib belajar, BKKBN untuk menyosialisasikan program KB, Badan Narkotika untuk menyampaikan pesan antinarkoba, Kepolisian dalam menyadarkan masyarakat pentingnya disiplin berlalu lintas, dan sebagainya.

“Kerja sama harus dibangun dengan posisi setara. Tidak mengiba, tapi sama-sama akan menyampaikan informasi kepada masyarakat,” tegas Daniel.

Dalam kompetisi tersebut, kriteria penilaian meliputi penyampaian pesan, kesesuaian naskah cerita dan pagelaran, ketrampilan/ kreativitas, serta kekompakan, dengan durasi pementasan 30 menit. Pertunjukan memenuhi unsur cerita, humor/ banyolan, irama lagu, gerak/ tari, dan oesan yang disampaikan. Tak kalah pentingnya, naskah cerita tidak boleh mengandung unsur SARA, pornografi, kekerasan/ sadisme. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn