Inovasi Jangan Hanya Jadi Dokumen

Semarang – Sabun wajah yang beredar luas di pasaran kebanyakan mengandung bahan kimia, baik untuk membantu pembersihan kotoran maupun pemutih. Tapi bagaimana jika kita mau menggunakan sabun wajah yang lebih alami dengan kemasan yang lebih praktis dan mudah dibawa ke mana-mana?

Hal itu yang menginspirasi M Taufik Hendradinata untuk menciptakan sabun wajah berbahan rempah jamu. Kemasan tube yang lebih praktis membuatnya optimistis produk tersebut bakal laku di pasaran. Terlebih, setelah dia memenangkan penghargaan Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) mulai dari Kota Semarang sampai tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dia juga memroduksi sabun herbal batangan.

Saat Dialog Interaktif “Pameran Produk Inovasi 2018” yang disiarkan dari Studio Mini Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (18/9), Inventor Krenova Jateng (Salina Herbal) M Taufik Hendradinata mengungkapkan, produk perawatan dan pembersih wajah miliknya merupakan hasil inovasi yang dilakukan dalam waktu cukup lama. Bahkan dia sempat putus asa dengan percobaan yang pernah dilakukannya karena berulangkali gagal.

Setelah berhasil menembus Krenova Tingkat Provinsi Jawa Tengah, berbagai keuntungan pun diperoleh Taufik dalam pengembangan produknya. Salah satunya, fasilitasi pembuatan tempat produksi yang sesuai standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Taufik tak sendiri. Banyak di antara warga Jawa Tengah yang berhasil membuat berbagai produk kreatif dan inovatif. Seperti sirup daun kersen buatan Hartati, guru SMA Negeri 1 Boja Kendal, bersama tiga siswanya yang dipercaya berkhasiat untuk menurunkan kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Ada pula produk inovasi lampu taman biopori smart energy karya Satria Pinandita dan Nunung Eni Elawati.

Karya-karya inovasi tersebut bisa dilihat pada Pameran Produk Inovasi (PPI) 2018, yang berlangsung di Sasana Manggala Sukowati Sragen. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah, Ir Sujarwanto Dwiatmoko MSi, menyampaikan kegiatan tersebut akan berlangsung dari 21-23 September 2018.

Pada event tersebut, masyarakat bisa melihat produk-produk inovatif karya anak Jawa Tengah yang tidak kalah dengan produk pabrikan. Bahkan mereka bisa belajar dari produk yang diciptakan tersebut.

“Jadi, inovasi jangan hanya jadi buku atau dokumen, tapi bisa berperan dalam tataran ekonomi. Pameran menjadi salah satu upaya untuk membentuk tataran publik. Kalau masyarakt datang ke Sragen nanti saat pelaksanaan PPI, bukan sekadar untuk belanja, tapi juga untuk belajar,” terangnya.

Ditambahkan, pemerintah terus mendorong inovasi dan kreativitas masyarakat. Bahkan pemerintah hadir untuk melindungi dan mengembangkan produk inovasi, melalui berbagai pendampingan, termasuk yang diberikan kepada pemenang Krenova.

Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, Sujarwanto mengungkapkan penyelenggaraan PPI pada tahun ini berbarengan dengan Sragen Multi Event 2018 dengan beragam kegiatan. Seperti, Sragen Creative Festival 2018, KTNA Expo Sragen 2018, Pameran Produk Unggulan Sragen Expo 2018, Fesival Kuliner Sragen 2018, Pameran Display Inovasi Sragen 2018, serta Museum Masuk Sekolah Sragen 2018.

Wakil Ketua Dewan Riset Daerah Jateng, Prof Dr Ir Djoko Soeprapto DEA mengapresiasi pameran yang diselenggarakan Bappeda. Dia berharap, pemerintah terus mendorong pengembangan inovasi di wilayahnya, dengan menentukan arah pengembangan ilmu dan teknologi. Pemerintah kabupaten/ kota pun tidak harus mengikuti pengembangan inovasi pemerintah provinsi karena potensinya berbeda.

Diakui, kebanyakan masyarakat masih mengasumsikan inovasi dengan teknologi engineering. Padahal rekayasa sosial juga penting, bahkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Jadi inovasi tidak terbatas pada teknologi berbau prototipe dan engineering, tapi juga sosial. Perlu best practice (pengalaman keberhasilan) untuk referensi masyarakat. Jadi orang tidak perlu melulu belajar di sekolah, tapi bisa juga dengan menyimak best practice,” katanya.

Sementara itu, anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah H Muh Zen Adv MSi menambahkan, pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam pengembangan inovasi masyarakat. Bahkan, saat ini panitia khusus (Pansus) DPRD Jawa Tengah tengah membahas Raperda Inovasi Daerah.

Pihaknya tidak ingin hasil inovasi yang berkembang tidak hanya terpampang di etalase, tapi punya nilai efektivitas, bahkan bisa mendorong penurunan kemiskinan dan pengangguran.

“Hasil karya siapa pun harus diapresiasi. Kalau sudah memenuhi syarat inovasi yang layak dan patut dikembangkan, tidak akan ada yang bisa menghadang. Bappeda terus diharapkan terus memperbanyak promosi inovasi, sehingga inovasi yang sudah dibuat tidak hanya diekspos di media, terus hilang,” tandas Zen. (Ul, Diskominfo Jateng)