Internet pun Bisa Dioptimalkan untuk Kenalkan Kesenian Tradisional

Blora – Tak biasanya, malam itu, Selasa (18/12), Lapangan Desa Jagong, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, ramai dipenuhi warga. Anak-anak sampai mereka yang berusia lanjut, tumplek blek di tempat yang berada di bagian terluar Kabupaten Blora tersebut.

Musik gamelan yang mengalun, semakin menarik orang untuk hadir. Tak berapa lama, enam penari menggunakan topeng singa pun beraksi. Penonton langsung merangsek ke arah panggung. Sebagian besar anak-anak. Beberapa orang tua sempat kebingungan mencari anaknya yang lepas dari pengawasan.

Belum lama berada di depan panggung, penonton dikagetkan dengan suara keras cambuk yang dimainkan penari. Sontak, mereka berlarian mundur karena takut terkena cambuk. Begitu keenam pemuda itu menari, penonton kembali marapat ke depan panggung. Banyak pula anak yang menirukan gerakan penari.

Kesenian Barongan merupakan kesenian tradisional Blora menggambarkan seseorang yang memiliki tubuh manusia namun berkepala singa. Diceritakan orang tersebut memiliki watak yang juga setengah manusia dan setengah hewan. Pertunjukan itu ditampilkan dalam kegiatan nonton bareng film “Jenderal Sudirman”,  pertunjukan rakyat di Lapangan Desa Jagong, yang berbatasan dengan Kabupaten Grobogan.

Kesempatan berkumpulnya banyak orang itu tak disia-siakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Bidang Informasi dan Komuniksi Publik Setyo Irawan ATD MM, untuk menyampaikan berbagai pesan. Salah satunya, meminta masyarakat agar tidak terpengaruh isu atau berita hoaks, yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk menanggulangi kemerebakan hoaks dan ujaran kebencian, mereka diharap lebih selektif meneruskan berita yang diterima, dan membiasakan mengisi dunia maya dengan pesan-pesan yang positif.

“Penuhi dunia maya dengan konten-konten yang positif. Sehingga hoaks dan ujaran kebencian akan minggir dengan sendirinya,” ujarnya.

Setyo juga menyinggung minat masyarakat terhadap kesenian tradisional yang semakin menurun, karena perkembangan zaman dan pengaruh budaya asing yang bisa diakses melalui televisi maupun internet. Dia menunjuk contoh, banyak generasi muda sekarang yang lebih senang melihat tontonan dari luar negeri. Melihat kondisi tersebut, pemuda diminta untuk menghidupkan kembali dan terus melestarikan kesenian tradisional.

“Dengan hadirnya tontonan dan berbagai hiburan baru yang lebih modern, berimbas pada redupnya kesenian tradisional. Minat masyarakat menurun karena pengaruh budaya luar. Oleh karena itu, diperlukan peran kita semua untuk terus melestarikan kesenian tradisional Indonesia,” imbuh Setyo.

Ketua Kelompok Seni Barongan Desa Jagong, Wiwit, mengungkapkan, pihaknya terus mengajak generasi muda untuk melestarikan budaya Indonesia melalui karyanya agar tak tergerus kemajuan zaman. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi jangan sampai membuat orang terlena dan melupakan kebudayaan daerahnya. Justru media internet, termasuk media sosial yang banyak diminati orang, bisa dimanfaatkan untuk lebih menyosialisasikan kesenian tradisional, seperti yang dilakukannya dalam mengenalkan kesenian Barongan.

“Bagi kami, perkembangan teknologi berakibat positif. Dengan youtubemasyarakat menjadi tahu kesenian Barongan, sehingga menambah jobkami,” jelasnya. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)