Jangan Ingin Menjadi Orang Lain

Semarang – Menjelang 2018, seluruh karyawan di lingkup Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah diminta merefleksikan diri. Mengevaluasi apa yang telah dilakukan sepanjang 2017 lalu, dan capaian yang akan diraih pada tahun depan.

Hal itu disampaikan Kepala Diskominfo Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri pada Siraman Rohani Akhir Tahun 2017, di Aula Lantai IV Diskominfo Jateng, Jumat (29/12). Menurutnya, ada tiga hal yang mesti menjadi perhatian. Pertama, kembali ke fitrah manusia. Sebab, awal kehidupan manusia diawali dari posisi kosong, bersih, tidak memiliki dosa bak sehelai kertas putih.

Ditambahkan, dalam perjalanan hidup, kertas putih itu akan terisi. Tak jarang ada kekeliruan maupun kesalahan yang dilakukan yang membuat noda pada kertas tersebut. Namun, pada posisi tertentu kertas itu diharapkan kembali bersih.

Kedua, setiap pribadi jajarannya diminta berdamai dengan masa lalu, setidaknya dalam satu tahun terakhir ini. Sebab, jika tidak, akan sulit menyongsong masa depan. Hindari kesombongan yang akan menumbuhkan beban nafsu-nafsu lainnya.

“Kalau pernah salah, jangan menurun atau down. Berdamai, ingat yang telah kita lakukan. Dalam berdamai kita juga harus mencari jati diri kita, sehingga mendapatkan kedamaian yang lebih bagus,” kata Dadang.

Poin ketiga, imbuhnya, dapat mengenali diri masing-masing. Jika tidak kenal dengan dirinya, dikhawatirkan terjadi penyimpangan atau bahkan melanggar ketentuan Sang Maha Kuasa. Dadang juga mengingatkan jika gelar tertinggi bukan profesor, doktor, dan sebagainya, melainkan hamba, seperti yang tetuang dalam Quran Surat Al Isra ayat 1, “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam”.

“Pesan saya, juga untuk diri saya, jangan kepengin jadi orang lain. Karena semua yang terjadi pada diri kita pada perjalanan hidup kita itu sudah ada yang menetapkan. Maka tidak usah ingin menjadi orang lain. Jalani saja hidupi kita, profesi kita sebaik-baiknya. Karena setinggi apa pun profesinya dan misi hidup anda, hidup kita akan kembali lagi mengarah ke nol,” tegas Dadang.

Sementara itu, uztad KH Fauzi Arhan menyampaikan, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan agar hidup bahagia. Yakni, jangan pernah berhenti untuk mencari ilmu jika ingin hidup bahagia. Jangan pula pernah berhenti bersyukur. Dia menyebut jika keberadaan harta benda berbanding lurus dengan syukut. Banyak orang ketika miskin kuat tapi saat kaya tidak kuat, jadi rakyat kuat namun begitu menjabat tidak kuat, menjadi makmum kuat ketika dipercaya menjadi imam tidak kuat.

“Sedikit bisa kita rasakan itu lebih baik daripada banyak tapi tidak kuat. Kalau ukurannya gelas nggak usah njaluk ember. Orang kaya itu orang yang merasa cukup, dan orang miskin itu orang yang merasa kurang,” katanya.

Pria yang tinggal di Salatiga itu juga mengingatkan agar jangan pernah berhenti bersedekah. Dia menyoroti anggapan keliru dari masyarakat yang menyatakan bersedekah kalau sudah kaya. Hal itu sebaiknya ditinggalkan. Jika memiliki harta, segera digunakan untuk bersedekah. Sebab, harta yang digunakan untuk bersedekah akan dibawa sampai meninggal.

“Makan enak kok ngenteni lara. Yang juga harus diperhatikan agar bahagia, jangan pernah berhenti zikir,” ungkapnya.

Menutup tausiahnya, Fauzi berpesan agar semua yang hadir mengingat mati. Caranya, jangan makan kalau belum jelas halal haramnya, jangan berbicara jika belum kelihatan manfaatnya, jangan keluar sebelum ada tujuannya, hidup apa adanya, dan jangan mencari keburukan sanak saudara.

Dalam kesempatan itu juga dilangsungkan prosesi pelepasan karyawan yang purnatugas, yakni Sigit Djoko Sutomo, Nurhadi, Rosita Purwati, Sutartiningsih, serta tenaga non-PNS yang diterima menjadi PNS di Kementerian, yakni Panggasa dan Satrio Edo Kusumo. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn