Kendalikan Diri Sebelum Bagikan Informasi

Semarang – Hampir setiap hari kita tidak bisa lepas menggunakan gawai. Bahkan, orang tua dan anak yang tinggal serumah terkadang juga saling berkomunikasi menggunakan gawainya. Namun, pernahkah dihitung berapa waktu yang disediakan setiap hari untuk berkomunikasi dengan keluarga tercinta?

“Penggunaan media sosial memang penting untuk menunjang aktivitas keseharian. Tetapi sebagai manusia tetap harus menjaga komunikasi secara langsung kepada orang terdekat. Janganlah terlalu mengagungkan dunia digital karena dapat memadamkan fitrah sebagai makhluk sosial,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri saat menjadi narasumber Literasi Media mengenai Edukasi Bicara Baik & Bijak Bermedia Sosial bersama Divisi Humas Polri Provinsi Jawa Tengah, di Hotel Grand Candi Semarang, Selasa (4/9).

Melihat fenomena tersebut, dia khawatir dapat mengurangi interaksi langsung antar manusia. Untuk itu, Dadang berpesan agar masyarakat seimbang dalam berinteraksi melalui media sosial dan berinteraksi secara langsung kepada orang lain.

“Gunakan media sosial untuk hal yang positif, untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi. Saling berbagi untuk hal-hal yang positif, perluas perkenalan dan bergabunglah pada komunitas yang membangun,” pesan Dadang.

Diakui, dalam menjalankan pemerintahan, media sosial juga sebagai alat transfer informasi dari pemerintah kepada masyarakat. Informasi dapat disampaikan kepada masyarakat secara cepat, tepat dan kredibel. Teknologi informasi juga meningkatkan pelayanan masyarakat dengan profesional, karena semuanya terintegrasi.

Dulu saat membuat perencanaan, antar-SKPD harus ekspor impor data secara manual. Namun, saat ini, semua SKPD sudah masuk dalam satu link, satu jaringan yang semuanya mengalir sampai monitoring.  Sehingga semua orang bisa mengecek, sejauh mana target yang telah ditindaklanjuti pemerintah.

“Pemprov Jateng saat ini dari aspek perencanaan sudah menggunakane-budgeting, semuanya sudah dalam rangkaian digital. Tidak ada lagi transaksi secara langsung, karena berakses digital. Sehingga dapat menutup peluang terjadinya korupsi,” bebernya.

Menyambung Dadang, Kabag Pelayanan Informasi dan Dokumentasi Divisi Humas Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono SIK MSi menyampaikan penggunaan media sosial tidak selalu dikaitan dengan hal yang negatif. Anak muda dengan pemahaman teknologi yang mumpuni bisa menjadi mitra pemerintah untuk melawan hoaks.

Menurutnya, hoaks bisa dilawan dengan 4C, yakni cermati, cek, cari, dan cepat. Ketika ada berita yang beredar di media sosial, pertama, cermati kesinambungan judul dan isi berita, apakah penggunaan bahasanya etis dan waktu kejadiannya pasti atau tidak. Kedua, cek sumbernya, apakah media tersebut sudah terverifikasi. Kemudian cek tanggal berita apakah aktual atau tidak, serta cek keaslian foto yang ditampilkan.

“Ketiga, cari perbandingan berita. Jangan percaya pada satu sumber saja, cari informasi ke lembaga atau forum yang diakui pemerintah. Terakhir, cepat klarifikasi berita yang tidak benar dengan berita yang benar. Berikan stempel hoaks terhadap berita yang tidak benar dan secepatnya disebarkan agar masyarakat semakin paham,” terangnya.

Dosen Ilmu Komunikasi Undip Dr Lintang Ratri Rahmiaji MSi meminta masyarakat agar mengendalikan diri sebelum membagikan informasi. Pastikan informasi yang dibagikan adalah informasi yang benar. Jangan merasa ingin menjadi orang pertama yang membagikan informasi.

Posting-lah yang penting, jangan yang penting posting,” tandasnya. (Fh/ Ul, Diskominfo Jateng)