Kok Bisa Mereka Nulis yang Lucu dan Menarik?

Semarang – Bagaimana tips agar tulisan kita tidak dianggap plagiat atau hoax? Bagaimana agar tulisan kita bervariasi tidak hanya tulisan terstruktur? Menulis yang baik agar tidak memunculkan dua makna itu seperti apa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mencuat saat acara Flash Blogging dengan tema “Menuju Indonesia Maju”, di Hotel Santika Premiere, Jumat (2/2). Bagi para blogger, keterampilan dan tips menulis memang penting, mengingat yang mereka rutin menulis di blog-nya.

Ika misalnya, blogger asal Semarang ini terbiasa menulis sesuatu secara terstruktur. Ada step-step yang dia tulis dari awal sampai akhir. Namun, saat membaca tulisan orang, Ika justru tertarik dengan tulisan yang bervariasi.

“Sering saya berfikir, kok bisa mereka menulis yang lucu-lucu dan menarik ya. Bagaimana agar saya bisa mengombinasikan keduanya?” tanya Ika.

Jurnalis Senior Anto Prabowo menyampaikan menulis dan membaca tak bisa dipisahkan. Untuk bisa menulis yang bernas (berisi) diperlukan banyak referensi yang dapat diperoleh dengan membaca.

Dengan membaca, imbuhnya, orang akan memperoleh ilmu pengetahuan, atau memahami style penulisan orang lain. Membaca tulisan orang lain juga diperlukan untuk menghindari plagiat.

“Kadang kalian merasa ide yang tertulis itu ide baru. Tapi, harus diantisipasi siapa tahu ada orang lain yang menuliskan ide itu. Ide yang sama ini yang sering dinilai pembaca sebagai plagiat,” beber Anto.

Diakui, tulisan yang mengandung sarkasme atau sindiran berpeluang menimbulkan makna baru yang bisa jadi berbeda dengan maksud penulisnya. Pemahaman berbeda pada tulisan sarkasme, menurut Anto, merupakan hal yang biasa. Namun, yang harus menjadi perhatian, jangan sampai tulisan yang alur atau style-nya biasa saja justru bermakna ganda.

“Makanya harus terus belajar menulis. Jangan ketika ada kritikan terus berhenti. Teruslah menulis,” imbaunya.

Tim Komunikasi Presiden Andoko Darta menambahkan tulisan sangat diperlukan, khususnya yang menunjang pembangunan. Sehingga bangsa yang sudah 72 tahun merdeka ini tak hanya menjadi negara berkembang tapi menuju negara maju.

“Kalau dulu ada ungkapan sing waras ngalah, saya tidak setuju. Sing waras harus bersuara. 72 tahun Indonesia merdeka, masak berkembang terus. Kapan jadi negara maju,” tuturnya.

Untuk itu, imbuh Andoko, Presiden RI Joko Widodo terus berupaya untuk mewujudkan Indonesia maju dengan berbagai langkah. Tahun pertama dengan pemancangan pondasi yang benar. Tahun kedua percepatan infrastruktur, dan tahun ketiga pemerataan yang berkeadilan.

“Apa pemerataan itu kesamaan perlakuan? Salah. Pemerataan itu keadilan. Masyarakat kecil, lemah, tingkat pendidikan yang kurang karena akses terbatas, teknologi kurang, itu yang mesti mendapat pembantuan,” ungkapnya.

Kebijakan pemerataan yang berkeadilan, kata Andoko, antara lain keberpihakan 40 persen pada lapisan masyarakat terbawah, memberlakukan BBM satu harga terutama bagi masyarakat Papua,

“Dulu berapa harga BBM di Papua? Bisa Rp 60 ribu per liter atau bahkan ada yang sampai Rp 100 ribu per liter di daerah yang sangat sulit. Tapi sekarang harganya sudah disamakan,” beber pria berkacamata ini.

Kebijakan lainnya, revitalisasi pasar agar pedagang dapat bersaing dengan pasar modern, pemberian Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, program pemberian makanan tambahan. Pemerintah juga membangun sentra pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa, memberikan subsidi yang lebih tepat sasaran untuk masyarakat penghasilan rendah, Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang pasa 2016 tersalurkan Rp 94,4 triliun.

 

Jangan Terkontaminasi “Hoax”

Ditambahkan, Presiden Jokowi juga memperhatikan rakyat di perbatasan dengan pembangunan Pos Lintas Batas Negara, sehingga warga di wilayah perbatasan merasakan kehadiran negara. Pembangunan manusia terus dilakukan, dengan capaian peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Di bidang energi, pemerintah tak berhenti meningkatkan rasio elektrifikasi, di mana pada Maret 2017 lalu, rasio elektrifikasi mencapai 92 persen.

“72 tahun merdeka, masih ada warga yang belum dapat (aliran) listrik. Padahal kita, kalau (aliran) listrik mati (padam) sebentar saja sudah marah-marah. Tapi dalam waktu dekat ini 100 persen warga harus menerima (aliran) listrik,” beber Anto.

Mengingat pentingnya peran masyarakat untuk bersama membangun negara ini, dia meminta agar seluruh blogger jangan pernah lelah mencintai Indonesia, seperti yang berulangkali dipesankan Staf Khusus Presiden Sukardi Rinakit.

Sementara itu, Direktur Kemitraan Komunikasi, Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, Dedet Surya Nandika, berpesan agar menjelang Pemilihan Kepala Daerah 2018, para blogger tak menulis informasi atau berita hoax menyangkut salah satu calon. Pasalnya, mereka bisa terjerat hukum atas tindakan yang dilakukan.

“Di Provinsi Jawa Tengah saya harap blogger-nya tidak terkontaminasi berita hoax. Karena di Jateng akan menghadapi Pilkada, Pemilihan Gubernur, bloggerjangan terpengaruh kalau ada permintaan untuk menulis hal-hal yang hoax,” tegas Direktur Kemitraan Komunikasi, Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, Dedet Surya Nandika.

Ditambahkan, pihaknya memiliki cara untuk bisa mendeteksi berita hoax, mengandung pornografi, ujaran kebencian, termasuk yang menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ketentuan yang menjerat para pelanggarnya pun ada, salah satunya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Untuk itu, dia mengajak bloggeruntuk terus menuliskan kebaikan, termasuk membantu menyukseskan program-program pemerintah melalui tulisan.

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Jawa Tengah Evi Sulistyorini mengingatkan pentingnya media blog dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Dia berharap para blogger bisa ikut menulis mengenai kemajuan pembangunan di negara ini, termasuk di Jawa Tengah, salah satunya Jateng Wow 2018.

“Bagaimana pun, pembangunan tidak akan berhasil tanpa peran aktif masyarakat, dan masyarakat pun tidak akan mengerti pembangunan yang sudah dilakukan tanpa diinformasikan melalui berbagai media,” tandasnya. (Ul, Diskominfo Jateng)