LPPL Diminta Alokasikan Siaran Berbahasa Jawa

Pemalang – Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) di Jawa Tengah diharapkan mengalokasikan waktu lebih untuk siaran berbahasa Jawa. Dengan begitu, dapat nguri-uri Bahasa Jawa yang semakin jarang digunakan di kalangan anak-anak.

“Saya berharap dari tujuh hari ada satu hari dengan siaran berbahasa Jawa, setidaknya selama satu jam. Syukur-syukur kalau bisa seminggu tiga kali atau tiap hari,” terang Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri, saat berdialog di LPPL Radio Suara Widuri Pemalang, Sabtu (10/3).

Diakui, LPPL mempunyai peran penting untuk membangun. Termasuk, dalam menjaga kebudayaan di provinsi ini. Dia menyambut baik sejumlah LPPL yang telah mengalokasikan siaran berbahasa Jawa dengan intensitas dan durasi lebih lama. Seperti, LPPL di Klaten, di mana ada acara yang menggunakan Bahasa Jawa kromo, bahkan pemirsanya pun merespons dengan Bahasa Jawa yang halus pula.

Tidak hanya itu, Dadang juga mendorong LPPL untuk lebih kreatif dalam menggaet perhatian pemirsa, khususnya di kalangan anak muda. Mereka dituntut mengoptimalkan teknologi informasi, untuk menampilkan siaran yang bisa diakses para remaja melalui gadget, misalnya melalui video streaming maupun media sosial. Selain itu juga mengemas acara yang lebih interaktif bagi anak muda.

“Banyak hal yang menarik dalam kacamata anak, bisa diangkat melalui diskusi di radio. Jadi panggil perwakilan siswa, siswa SMA/ SMK misalnya yang nalarnya sudah bagus, beri kesempatan mereka untuk adu pendapat di radio. Pilih waktu yang bagus sehingga banyak temannya yang mendengar atau menonton,” bebernya.

Sementara itu, saat siaran di LPPL Radio Abirawa Top FM Batang, Dadang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemungutan suara pemilihan gubernur dan bupati/ wali kota pada 27 Juni mendatang. Sebab partisipasi seluruh masyarakat akan mencerminkan kualitas pilkada di provinsi ini.

“Saat kampanye seperti sekarang, kondisi mulai memanas, terutama di media sosial. Karenanya, saya minta masyarakat lebih bijak menggunakan media sosial. Hati-hati menggunakan jempol Anda,” tegasnya.

Diakui, banyak isu yang akan menyebar di masyarakat terkait pilkada ini. Jika masyarakat menemui adanya dugaan pelanggaran, laporkan saja ke Panwas atau Bawaslu. LPPL pun diharapkan ikut mengedukasi masyarakat dengan memberikan informasi yang lengkap dan benar.

“LPPL harus bertransformasi menjadi jembatan pemerintah dan masyarakat. Jadi, kalau ada laporan pelanggaran pilkada dari masyarakat, jangan langsung diangkat. Konfirmasikan dulu dengan Bawaslu,” tandasnya.

Usai dari Batang, Dadang juga menyambangi LPPL Swara Kendal dan kembali menyapa pendengar. Dia berpesan kepada pengelola Swara Kendal untuk membuat program yang menarik generasi muda. Temanya pun mesti kekinian.

“Yang harus digaet adalah pendengar usia 15-40 tahun. Persentase yang besar di kependudukan,” katanya. (Ul, Diskominfo Jateng)