Masyarakat Belum Siap Bermedia

Semarang – Keberadaan telepon genggam bagi masyarakat dinilai sudah sangat penting. Bahkan bisa jadi masuk dalam bagian sembilan bahan pokok (sembako) warga.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, KH Ahmad Darodji MSi menyampaikan masyarakat bisa hidup karena berkomunikasi. Dan komunikasi yag banyak dilakukan adalah melalui narasi atau suara. Namun belakangan ini, komunikasi mulai beralih melalui telepon genggam.

“Tanpa HP (handphone), cotho banget. Mungkin dalam sembako perlu ditambahkan HP, dan bisa jadi sekarang ini HP ada di urutan awal-awal,” ungkapnya pada Forum Dialog dan Literasi Media “Bijak Bermedia Sosial”, di Hotel Ciputra, Kamis (2/11).

Darodji menyampaikan, pada eran 1970-an, seorang penulis dan futurolog dari Amerika Alvin Toffer pernah memperkirakan jika suatu saat manusia akan berada pada masa di mana sangat bergantung dengan komunikasi menggunakan perangkat teknologi. Masa itu sudah terjadi sekarang, di mana masyarakat mengandalkan gadget untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi tentang berbagai hal.

Dari kemudahan berkomunikasi tersebut, ada dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Karenanya, perlu kehati-hatian dalam menyebarkan informasi. Mereka dituntut mengerti apakah informasi yang disampaikan positif atau tidak, benar atau tidak.

“Kalau punya berita yang menyebabkan benci pada seseorang, kita harus punya daya tangkal. Tidak perlu diteruskan. Perlu ketahanan dari warga untuk menangkal radikalisme, intoleransi, berita hoax,” tegasnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri menilai masyarakat saat ini belum siap bermedia. Terbukti, banyak di antara mereka yang memiliki gawai dengan teknologi canggih dan harga mahal, tapi tidak diimbangi dengan penggunaannya. Artinya, tidak semua fitur yang ada dimaksimalkan.

“Saya yakin tidak semua menggunakan teknologi yang ada dengan semestinya. Sama halnya menanamkan investasi tapi tidak menggunakan. Karenanya, belilah sesuai kebutuhan kita. Kalau cuma untuk whatsappatau media sosial, tidak perlu membeli yang mahal-mahal, yang biasa saja,” sorotnya.

Ditambahkan, mudahnya mendapatkan informasi ditambah dengan keinginan untuk men-share berita dengan cepat, membuat penyebaran berita hoax atau informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya menyebar dengan cepat pula. Ada pula pihak yang tidak memanfaatkan media sosial dengan baik, dengan menyebarkan ujaran kebencian hingga radikalisme.

“Jangan mudah percaya dengan berita yang mudah dibaca. Saring dulu baru sharing,” tegas Dadang.

Sementara itu, Kasubdit Media Online Direktorat Pengelolaan Media Publik Kemenkominfo RI Nurlaili menyampaikan saat ini pihaknya sudah memblokir lebih dari 6.000 situs yang menyebarkan konten negatif, ujaran kebencian hingga radikalisme. Namun, sapu bersih konten negatif tidak akan berhasil jika tanpa disertai kesadaran pengguna internet untuk menangkalnya.

“Semuanya harus bersama untuk menangkal berita negatif dan menyebarkan konten-konten positif,” tandasnya. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn