Pantai Karangjahe, Bersiap Hadapi Lebaran

Rembang – Berawal dari tekad penanganan aberasi pantai yang dilakukan karangtaruna Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang pada 2008 silam, kini Pantai Karangjahe menjadi objek wisata andalan. Bahkan, bisa mengangkat perekonomian masyarakat setempat.

Letak Pantai Karangjahe tak jauh dari pusat kota. Aksesnya pun mudah dijangkau. Pasir putih di pantai utara dengan ombak yang relatif tenang itu menjadi daya tarik tersendiri. Dasar pantai yang landai membuat pengunjungnya yang kebanyakan anak-anak dan remaja tidak takut bermain air di pantai.

Sejumlah warga juga menyewakan pelampung berukuran kecil dan besar dengan harga terjangkau, yakni Rp 5.000 per pelampung yang bisa digunakan seharian penuh. Ada pula yang menyewakan perahu karet kecil lengkap dengan dayung mini untuk digunakan di sekitar pantai, cukup dengan biaya Rp 20.000 per perahu. Pengunjung yang ingin berpetualang dengan ATV, bisa menyewa seharga Rp 40.000 per 30 menit atau Rp 25.000 per 15 menit.

Tidak hanya perahu karet, pelancong yang hendak menikmati angin laut, dapat berkeliling menggunakan kapal mesin ke Pulau Karang, dengan waktu tempuh pergi pulang sekitar 20 menit. Biayanya tidak terlalu mahal, hanya Rp 10.000 per orang. Jika ingin lebih lama lagi, bisa naik kapal mesin ke Pulau Gosong dengan waktu tempuh 30 menit dan biaya Rp 25.000 per orang.

Bagi mereka yang tidak suka berpanas-panasan, hamparan pohon cemara laut di tepi pantai bisa menjadi penyejuk, sekaligus membuat kawasan pantai lebih asri. Pengunjung pun bisa melepas lelah dan menikmati degan dan aneka jajanan di warung yang dikelola oleh warga. Di tempat itu juga tersedia beragam suvenir khas Rembang.

“Puas banget bermain di sini. Tidak hanya main air dan naik perahu, tapi banyak yang bisa dicoba,” ungkap Rani, salah satu pengunjung asal Blora, yang dijumpai Selasa (23/5).

Ketua Pengelola Pantai Karangjahe Mustofa mengungkapkan, penataan Pantai Karangjahe awalnya dari keinginan penanganan aberasi pantai yang terhitung parah pada 2008-2009 silam. Sebab, pemerintah belum memiliki upaya penanganan aberasi pada pantai yang berpasir.

“Sejak itu kami mencoba untuk menanami tepi pantai. Kami sudah mencoba beberapa tanaman, dan gagal. Hingga akhirnya kami menemukan pohon cemara laut, yang cepat tumbuh. Apalagi kalau waktu tanamnya pada cuaca yang sesuai. Tapi, di sini juga ada pohon setigi yang unik dan tumbuh dengan sendirinya. Jadi, kalau Pantai Karangjahe jadinya seperti ini, ya sebenarnya itu tidak terencana,” bebernya.

Ditambahkan, pada 2014, karangtaruna bersama warga memberanikan membuka Pantai Karangjahe sebagai objek wisata dengan bentangan garis pantai 1,45 kilometer. Tidak disangka, kunjungan wisatawan meningkat pesat. Pada hari biasa pengunjung sekitar 500 orang, dan pada hari libur atau weekend, pengunjung bisa mencapai 2.000 orang. Bahkan pada tahun baru lalu, membeludaknya pengunjung yang hendak merayakan pergantian tahun di pantai tersebut, sempat memacetkan jalur utama pantai utara (pantura).

“Sampai-sampai kami dimarahi polisi karena menjadi biang kemacetan. Tapi kami jawab saja, ya kala-kala Rembang jadi seperti Bandung to pak. Memang kemacetan yang sangat parah itu juga tidak kami duga,” jelas Mustofa.

Berkaca dari membeludaknya pengunjung saat tahun baru, menjelang Lebaran ini pihaknya melakukan pembenahan. Seperti tempat parkir, hingga rute yang dilalui selama libur Lebaran. Sehingga, tidak mengakibatkan kemacetan parah di jalur pantura.

Dukungan pemerintah kabupaten terhadap keberadaan pantai yang terletak di Desa Punjulharjo itu cukup bagus. Untuk lebih menarik minat pengunjung, pemerintah kabupaten memfasilitasi area untuk selfie di sebelah timur pantai. Antara lain, sejumlah tempat duduk berbentuk love, ayunan di atas air, dan sebagainya.

Keberadaan Pantai Karangjahe, katanya, juga meningkatkan perekonomian masyarakat. Pasalnya, mereka yang berjualan, menyewakan pelampung, perahu, kapal, ATV, dan sebagainya, adalah warga setempat. Lebih dari 100 warga menggantungkan perekonomiannya dari usaha di Pantai Karangjahe. Sehingga, multiplier effect keberadaan objek wisata yang digagas masyarakat, dapat dinikmati langsung oleh warga.

Berkah Pantai Karangjahe diamini Safii (55), warga Desa Punjulharjo yang kesehariannya menyewakan pelampung dan perahu karet. Menurutnya, sejak pantai tersebut dibuka, penghasilannya meningkat.

“Pada hari biasa, saya bisa dapat Rp 400.000. Tapi kalau hari Minggu, penghasilan saya bisa sampai Rp 800.000,” tandasnya. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn