Penurunan Stunting di Brebes Jadi Perhatian Khusus

Brebes – Kabupaten Brebes termasuk daerah yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat dalam penanganan stunting atau kekerdilan. Pasalnya, berdasarkan data 2017, kejadian stunting pada balita di kabupaten tersebut mencapai 30,7 persen.

Direktur Kemitraan Komunikasi Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Dedet Suryanandika menyampaikan Kabupaten Brebes termasuk dalam 100 kabupaten/ kota yang mendapat perhatian Pemerintah Pusat untuk menurunkan pravalensi stunting. Sebab, berdasarkan Data Pemantauan Status Gizi Balita Tahun 2017, Kabupaten Brebes menempati posisi pertama penderita stunting di Jawa Tengah dengan jumlah 32,7% dari seluruh balita.

Dijelaskan, stunting merupakan kasus terganggunya pertumbuhan anak sehingga tinggi badan anak lebih rendah dari anak seusianya. Tak hanya pertumbuhan fisik yang terhambat, stunting juga berakibat pada berkurangnya kecerdasan kognitif anak. Sehingga dikhawatirkan berpengaruh terhadap produktivitas anak saat dewasa.

Mengingat dampaknya yang serius, pencegahan stunting menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum dalam sasaran pokok pembangunan kesehatan di Indonesia periode 2015 – 2019. Salah satu upayanya melalui peningkatan status gizi anak.

Kasubid Penanggulangan Masalah Gizi Ditjen Gizi, Kementerian Kesehatan Masyarakat Dr Marina Damayanti MKes menjelaskan kecukupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni 270 hari bayi dalam kandungan ditambah 730 hari atau dua tahun pertama usia anak, sangat mempengaruhi pertumbuhan anak. Termasuk status infeksi anak maupun ibu selama masa kehamilan. Sebab masa itu merupakan periode sensitif yang menentukan pertumbuhan fisik serta perkembangan mental maupun kecerdasan anak.

“Konsumsi gizi dan infeksi itu berkaitan erat. Kalau konsumsi gizi kurang maka badan gampang terkena infeksi atau penyakit,” terangnya.

Untuk itu, kata Marina, perlu dilakukan pencegahan stunting melalui dua intervensi, yaitu spesifik dan sensitif. Intervensi sensitif dilakukan melalui pemberian asam folat, imunisasi TT, penanggulangan kecacingan, melindungi ibu hamil dari malaria dan sebagainya. Sedangkan upaya intervensi sensitif dilakukan dengan memperhatikan pembangunan di luar sektor kesehatan, misalnya kondisi lingkungan, sanitasi rumah, dan lainnya.

Bupati Brebes melalui Wakil Bupati Brebes Narjo SH menambahkan pihaknya akan berupaya melakukan pencegahan stunting. Salah satunya dengan mengalokasikan anggaran untuk peningkatan gizi anak dan ibu hamil, khususnya di 10 desa dengan stunting tinggi. Yakni Desa Cikadung, Dukuhmaja, Glonggong, Grinting, Janegara, Jatisawit, Kalilangkap, Kalinusu, Pruwatan, dan Wanasari. Tentunya, upaya tersebut harus mendapat dukungan semua pihak, termasuk masyarakat. (Hn/Ul, Diskominfo Jateng)