Penyiar Dituntut Terus Tingkatkan Kompetensi

Semarang – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah terus mendorong para penyiar radio agar selalu meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya. Sebab penyiar merupakan ujung tombak tayangan di radio.

“Karena seorang penyiar yang akan menyampaikan informasi ke pendengar atau publik. Jika penyiarnya bagus dan baik maka radio itu akan bisa terbilang baik,” kata Ketua KPID Jawa Tengah Setyo Budi Purnomo, saat membuka kegiatan Peningkatan Kualitas SDM Penyiaran yang digelar KPID Jawa Tengah di Hotel Patra Jasa Semarang, Senin (18/9).

Kegiatan pelatihan bertema ‘Peningkatan Profesionalisme Penyiar Melalui Uji Kompetensi Profesi Tingkat Dasar’ itu diikuti sebanyak 50 penyiar dari beberapa daerah. Seperti Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Demak, Kudus, dan Kendal.

Budi menambahkan siaran radio memiliki kekhasan karena penyiar menyampaikan informasinya secara langsung kepada publik. Hal itu berbeda dengan media cetak di mana produksi informasinya tidak secara langsung. Pada media cetak, berita tersebar setelah melalui proses, mulai dari wartawan di lapangan, redaktur, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, redaktur bahasa hingga lay outer. Setelah itu berita dicetak, baru kemudian diedarkan ke publik.

Proses pemberitaan di media cetak yang sudah melalui proses panjang seperti itu saja, imbuhnya, terkadang masih ada kekeliruan. Peluang terjadinya kesalahan semakin besar pada penyiaran radio.

“Apalagi jika penyiar menyampaikan berita secara langsung,” kata Budi.

Melihat kondisi tersebut, terangnya, KPID berupaya melakukan pelatihan maupun peningkatan kompetensi bagi para penyiar. Sehingga diharapkan profesi penyiar tidak dijalankan secara asal-asalan atau sekadar hobi, melainkan benar-benar professional.

Setiap tahun, KPID Jawa Tengah menggelar kegiatan peningkatan kapasitas SDM penyiaran. Materinya pun dibuat secara berjenjang mulai dari dasar, menengah hingga lanjut. Penjenjangan dilakukan berdasarkan fokus materi pelatihan, mulai dari materi etika dan regulasi penyiaran, penulisan naskah, olah vokal, dasar-dasar broadcasting, produksi berita feature hingga investigasi, baik teori maupun praktik.

Tidak hanya itu, Budi juga meminta agar para pemilik radio menghargai keberadaan para penyiar, baik dari aspek penggajian, kesejahteraan, tunjangan-tunjangan, hubungan kerja dan lain-lain. Dengan penghargaan itu penyiar akan bisa bekerja secara maksimal dan profesional. (KPID/ Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn