Perilaku 11 Bulan Mendatang, Bukti Pembelajaran Ramadan

Semarang – Usai Ramadan, masyarakat kembali dihadapkan pada pembuktian. Lurus tidaknya hasil pembelajaran saat sebulan Ramadan itu akan dibuktikan pada tingkah laku selama 11 bulan mendatang.

“Selama satu bulan kita sudah belajar. Apakah yang kita pelajari sebulan itu lurus atau tidak, akan dibuktikan pada 11 bulan ke depan,” beber Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri, saat Apel Pagi di Halaman Kantor Diskominfo Jateng, Kamis (21/6).

Ditambahkan, ada empat pembelajaran utama yang bagus jika diterapkan keseharian, termasuk dalam kedinasan. Pertama, kedisiplinan, di mana selama sebulan umat Islam menaati untuk tidak melakukan hal-hal yang sebenarnya halal dilakukan di luar Ramadan, seperti makan dan minum usai Subuh hingga Maghrib. Pelajaran kedua, jujur pada diri sendiri yang dapat berdampak pada kejujuran di lingkungannya.

“Sebenarnya, tidak ada yang tahu kalau kita minum di siang hari saat Ramadan. Kejujuran itu yang mesti diterapkan . Tanpa ada yang melihat, tetap melakukan yang terbaik. Tidak neko-neko,” tegasnya.

Pembelajaran ketiga, kata Dadang, mengenai keikhlasan, sebagaimana muslim ikhlas menerima hukum dan aturan yang berlaku saat Ramadan. Nilai itu bisa diaplikasikan dengan bagaimana seluruh pegawai menerima tata tertib yang telah ditetapkan, misalnya, kesepakatan ASN untuk terus mengabdi kepada masyarakat, melakukan hal yang halal atau tidak menyimpang.

Nilai lain yang bisa dipetik selama Ramadan, muslim dibentuk menjadi jiwa-jiwa yang memiliki kesalehan dan kepedulian sosial. Dia mencontohkan, masyarakat berlomba-lomba bersedekah selama Ramadan, bahkan lebih banyak jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Rezeki yang diberikan, baik melalui lembaga atau masyarakat yang membutuhkan, menurutnya, tidak hanya membantu si penerima. Lebih dari itu, bantuan tersebut diyakinkan sebagai rezeki manusia yang sebenarnya, dan menjadi tabungan yang akan dibawa di akhirat. Bagaimana pun, masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan. Agar bantuan dapat lebih terarah, pemerintah pun telah berupaya mengoordinasikan kegiatan sosial masyarakat.

“Di akhir Ramadan, masyarakat dengan kesadaran membayar zakat, baik fitrah maupun mal. Itu bagian dari kepedulian sosial. Kita tidak menghitung lagi seberapa besar yang kita berikan dan itu menjadi bagian membersihkan diri. Kalau itu dilakukan sampai 11 bulan ke depan, dan di-charge lagi saat Ramadan, begitu hebatnya kita, dan institusi kita menjadi besar. Dan saya yakin bapak ibu sanggup melakukan itu,” tandas Dadang. (Ul/ Fh, Diskominfo Jateng)