Belanda Diminta Beri Salinan Dokumen Drainase Semarang

Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mencari solusi penanggulangan banjir dan rob di Kota Semarang. Salah satunya mengupayakan meminta bantuan Pemerintah Belanda untuk memberikan duplikat arsip atau dokumen terkait sistem drainase dan saluran air di Kota Semarang yang dibuat pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Permintaan arsip tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko MSi saat menerima kunjungan kerja Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda Jet Bussemarker di ruang kerja wakik gubernur, Kamis (16/2). Menurutnya arsip tentang sistem drainase tersebut sangat penting sebagai bahan pembelajaran mencari solusi masalah banjir dan rob di Kota Semarang yang selalu menjadi masalah setiap tahunnya. Namun, saat ini tidak ada satu arsip pun yang dimiliki, baik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah maupun Pemerintah Kota Semarang.

“Saat ini kami sudah tidak mempunyai lagi arsip yang dimaksud (arsip tentang sistem drainase). Maka kalau di Belanda masih ada, kami sangat berharap untuk bisa mendapatkan kopiannya. Arsip ini akan menjadi bahan untuk kami pelajari guna mencari solusi permasalahan banjir dan rob di Kota Semarang,” katanya.

Pemerintah Belanda juga diminta untuk membantu menyediakan tenaga ahli bahasa untuk menerjemahkan arsip-arsip kuno masa Pemerintahan Hindia Belanda yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sebab, arsip-arsip tersebut semuanya berbahasa Belanda dan masih ditulis menggunakan tangan. Sehingga setelah diterjemahkan nantinya arsip-arsip tersebut dapat lebih dimanfaatkan untuk Jawa Tengah, khususnya Semarang, mengingat Belanda memiliki teknologi yang setingkat lebih maju dibandingkan Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut, Mantan Bupati Purbalingga ini mengakui sistem dokumentasi atau kearsipan Belanda yang lebih maju. Karenanya dirinya meminta kepada Pemerintah Belanda untuk memberikan training atau beasiswa mengenai kearsipan.

Selain itu, Heru juga mempertanyakan pembatalan Festival Gamelan Internasional di Amsterdam. Mengingat kerja sama event-event seni budaya ini tidak hanya menjadi ajang pengenalan dan pembelajaran kesenian Jawa di Eropa, melainkan juga dapat menjadi magnet bagi warga Eropa untuk datang ke Jawa Tengah untuk menyaksikan atau belajar secara langsung seni budaya yang dimiliki Jawa Tengah.

“Kami berharap Pemerintah Belanda dapat merekomendasikan terkait festival gamelan lain pada tahun ini juga,” ujarnya.

Menanggapi permintaan terkait kearsipan tersebut, Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Jet Mussemarker mengatakan siap untuk membantu. Dia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk lebih menspesifikan arsip atau dokumen tentang sistem drainase yang dimaksud agar dapat mempermudah pencarian arsip. Bahkan, tim dari Jawa Tengah juga diminta datang ke Belanda untuk membantu pencarian arsip yang dimaksud.

“Saya sangat mengerti kalau diperlukan grand desain drainase itu untuk bisa diintegrasikan ke planing yang baru,” katanya.

Jet menyampaikan pihaknya tidak hanya ingin membantu pengembangan drainase dan saluran air di Kota Semarang agar dapat menanggulangi masalah banjir dan rob. Pengembangan Kota Lama juga menjadi salah satu tujuannya melakukan kunjungan kerja ke Kota Semarang. Menurutnya bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial Belanda tidak hanya perlu direstorasi, namun juga harus difungsikan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Keseriusannya untuk membantu pengembangan Kota Semarang tidak hanya didasarkan kepada komitmen partnership antara Pemerintah Belanda dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Lebih dari itu juga karena neneknya dulu pernah tinggal di Kota Semarang.

“Bangunan-bangunan kuno yang juga berasal dari kolonial Belanda sebaiknya tidak hanya bangunan saja yang direstorasi. Tapi mendapatkan fungsi yang lebih bermanfaat sehingga dapat bertahan juga,” pungkasnya.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn