Program Pencegahan ”Bullying” Diharap Bisa Direplikasi

Semarang – Kekerasan terhadap anak, termasuk bullying merupakan kejahatan yang sekarang ini semakin banyak terjadi di masyarakat. Bahkan bullying sering dianggap hal yang biasa. Karenanya, perlu upaya pencegahan secara masif.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri mewakili Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan, setiap hari pemberitaan mengenai kasus perkosaan, pelecehan seksual, pencabulan, bahkan sampai pembunuhan menghiasi media massa, baik media cetak maupun elektronik. Bahkan, Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan empat tahun terakhir merupakan tahun darurat bagi anak.

”Inilah fenomena gunung es. Kasus-kasus kekerasan yang dialami anak di kalangan keluarga, sekolah dan masyarakat belum banyak diketahui, karena belum tercatat atau terdokumentasi dengan baik. Selain itu, pemahaman kekerasan dengan penegakan disiplin dan mendidik anak masih kurang karena perbedaannya sangat tipis. Bahkan bullying dianggap hal yang biasa dilakukan,” ujarnya pada Pembukaan Lokakarya Hasil dan Tindak Lanjut Pelaksanaan Program Riset Aksi Model Pengembangan Pencegahan Bullying dan Disiplin Positif di Provinsi Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan Tahun 2018, di Hotel Grandhika, Selasa (20/3).

Untuk itu, imbuh Dadang, perlu upaya pencegahan secara masif, yang melibatkan semua pihak baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Salah satu yang dilakukan United Nations Children’s Fund (Unicef) Pusat selama dua atau tiga tahun ini adalah  mengembangkan riset aksi program model pencegahan bullying di sekolah pada dua daerah, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Jawa Tengah. Metode pendekatan yang digunakan bernama roots, yaitu model pendekatan program global pencegahan kekerasan di kalangan teman sebaya yang berfokus pada upaya membangun iklim yang aman di sekolah dengan mengaktivasi peran siswa sebagai agen berpengaruh atau agen perubahan.

“Program disiplin positif dan pencegahan bullying dengan pendekatan roots  ini mengambil pendekatan whole school approach (seluruh komponen sekolah). Harapannya, pengembangan riset aksi ini dapat menghasilkan model pengembangan upaya pencegahan perlindungan anak mampu bekerja secara holistik dan komprehensif. Kalau sudah bagus, nantinya bisa direplikasi di daerah lain,” bebernya.

Dadang melaporkan, pelaksanaan program riset aksi disiplin positif dan pencegahan bullying Provinsi Jawa Tengah dilaksanakan di delapan sekolah setingkat SMP di Kota Semarang dan Kabupaten Klaten, dengan model empat SMP di Kota Semarang dan Klaten mendapat intervensi, dan empat sekolah lainnya tidak mendapatkan intervensi (sekolah kontrol).  Sedangkan di Provinsi Sulawesi Selatan, program tersebut dilaksanakan di empat sekolah di Kota Makasar dan Kabupaten Gowa.

“Untuk Jawa Tengah, upaya persiapan tindak lanjut ke depan sudah dilakukan dengan mencetak para fasilitator dengan melibatkan Forum Anak di 35 Kabupaten/kota dan Provinsi, dan hasilnya sudah ada empat kabupaten yang menginisiasi sendiri model pencegahan bullying dan disiplin positif ini di beberapa sekolah, seperti Jepara, Kendal, Banyumas dan Brebes,” terang Dadang.

Dia berharap agar program tersebut tetap dilanjutkan dan bisa direplikasi di sekolah maupun kabupaten/ kota yang lain. Untuk itu, Dadang meminta dukungan fasilitasi dan advokasi semua pihak, khususnya empat kementerian terkait agar pelaksanaan replikasi pengembangan model pencegahan bullyingdan disiplin positif dapat terlaksana dengan baik.

Perwakilan Unicef Indonesia Emilie Minnick menyampaikan, kasus kekerasan yang ada di Indonesia tidak lepas dari perhatian Unicef. Program kerja sama antara Unicef dan Pemerintah di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan untuk menangani kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah pun telah mencapai hasil positif.

Dia menyatakan jika Unicef siap untuk mendukung penelitian di bidang kekerasan dan perlindungan anak yang diadakan oleh Pemerintah. Sehingga, diharapkan riset aksi pelaksanaan pengembangan model pencegahan bullying yang dibahas kali itu dapat menjadi program Pemerintah skala Nasional.

“Saya rasa kita semua sudah sering mendengar pemberitaan di media tentang kasus – kasus kekerasan di sekolah yang ada di Indonesia dan ini menjadi masalah penting, kita harus bekerjasama sama untuk mencegah kekerasan di sekolah,” tandas Emilie. (Ul/Hn,  Diskominfo Jateng)