Ribut “Jumbleng” Sampai Pilkada Warnai Seleksi FK Metra di Boyolali

Boyolali – Seorang pria marah kepada penjual cilok. Gara-gara ibunya membeli dan mengonsumsi cilok dari pedagang tersebut, si ibu pun sakit perut.

Pria bernama Darmin itu pun tersulut emosi. Bahkan dia menuding warung yang juga digunakan untuk memasak kotor dan tak sesuai standar kesehatan. Dia ingin warung tersebut ditutup.

Tutup warungmu. Nek ora bakalan wong sak desa mati gara-gara warungmu. Deloki, warung kok laler thok, ambune kaya WC,” protes Darmin.

Sang penjual tidak terima dengan tudingan itu. Setiap hari warungnya selalu dibersihkan. Tetapi selalu ada bungkusan plastik bau dan selalu dikerubuti lalat yang tiba-tiba ada di warungnya. Penjual itu tak tahu dari mana bungkusan itu berasal.

Iki meneh, wingi wis tak buang, kok isih ana bungkusan plastik ning kene. Gek lalere ting kleper, ambune ora enak. Jakno sing tegel karo aku ki sapa ta ya,” sanggah sang pemilik warung.

Setelah ditelisik, misteri bungkusan itu merupakan ulah Darmin yang memendam dendam pribadi dengan penjual. Sebab, dia dulu pernah diprotes dan dilaporkan penjual itu saat hendak membuat jumbleng di pekarangan rumah. Dendam itu dilampiaskan dengan membuang kotoran manusia di sekitar warung.

“Ya bener kuwi pekarangan, kuwi omahmu. Mbok iya jenenge nggawe jumbleng kuwi paling ora (jarake) 10 meter utawa luwih saka sumur. Lha kowe nggawe jumbleng mung jarake sakkilan saka sumur,” kilah pemilik warung.

Percakapan tersebut ditampilkan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Kabupaten Sragen pada Seleksi Pertunjukan Rakyat FK Metra di Joglo Wisata 1, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Selasa (17/4). Tim itu mengawali penampilannya dengan tarian Topeng Ireng.

Penampilan berbeda ditunjukkan FK Metra Kabupaten Boyolali. Mengusung tema Pilkada Damai, tim itu menceritakan perbedaan pendapat antara Gareng dan Bagong pada pilkada mendatang. Gareng menyatakan akan memilih pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang jelas. Sedangkan Bagong lebih memilih pemimpin yang memberinya uang. Hingga akhirnya datang Semar yang menyelesaikan keributan tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri melalui Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Evi Sulistyorini menjelaskan pelaksanaan seleksi FK Metra tersebut merupakan lokasi penyisihan kedua setelah sebelumnya seleksi dilaksanakan di Kota Pekalongan pada 7 April lalu. Seleksi kali ini diikuti enam tim, yakni FK Metra Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Klaten, Wonogiri, Sragen dan Banjarnegara.

Kegiatan tersebut juga dibarengkan Deklarasi Antihoaks yang dilakukan seluruh pengurus FK Metra, pelaku seni dan masyarakat Boyolali. Dia berharap deklarasi itu tak sekadar seremoni, tetapi benar-benar diikuti tindakan nyata untuk tidak menyebarkan, membuat ujaran kebencian, fitnah maupun berita bohong yang pada akhirnya akan merugikan dan merusak keutuhan NKRI.

“Kalau ada berita/ informasi sebaiknya disaring dulu sebelum di-sharing serta bijaklah dalam menanggapi informasi. Konten aduan dapat dilihat di laman website trustpositif.kominfo.go.id atau whatsapp 08119224545. Selain itu bisa juga di capture/url link kirim data ke aduan konten@mail.kominfo.go.id aduankonten.id,” imbuh Evi.

Wakil Bupati Boyolali, Mohammad Said Hidayat SH menambahkan, di era teknologi canggih, di mana smartphone seolah tak bisa lepas dari pemiliknya, masyarakat mesti tetap dituntut menjaga nilai-nilai tradisi. Apalagi, Indonesia kaya dengan budaya dan tradisi. Dengan menjaga tradisi, diharapkan kerukunan di masyarakat terus terjaga.

“Biarlah teknologi terus berkembang, tetapi di sisi lain, nilai tradisi ini harus kita jaga bersama. Sekali lagi marilah kita hadirkan semangat kerukunan di antara kita semua,” tambahnya.

Sementara itu, pengurus FK Metra Provinsi Jawa Tengah Daniel Hakiki menambahkan kegiatan itu bukan hanya mencari juara. Namun merupakan upaya bersama untuk memantik agar kesenian dan pertunjukan rakyat kembali memasyarakat.

“Jadi seleksi ini adalah pemantik. Bukan hanya untuk memenangkan seleksi ini yang utama, tetapi bagaimana kesenian rakyat mampu dioptimalkan sebagai media untuk diseminasi informasi,” jelasnya.

Kegiatan FK Metra yang diselenggarakan di Boyolali itu pun berlangsung meriah. Meski jauh dari perkotaan, penonton yang hadir membeludak. Tampak sejumlah siswa SD dan SMP ikut menyaksikan penampilan kesenian rakyat. Pedagang yang sebagian besar menjual aneka makanan khas desa setempat pun memenuhi sekitar Joglo Wisata. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)