Sate Serepeh, Gurih Santannya Bikin Ketagihan

Rembang – Sate ayam berbumbu kacang atau kecap, itu biasa saja. Tapi bagaimana jika dibumbui santan kental dengan rasa gurih manis?

Anda bisa mencoba sate serepeh yang sensasi di lidahnya berbeda dengan sate biasa. Rasanya yang gurih manis, membuat penikmatnya ketagihan. Apalagi daging yang digunakan adalah ayam kampung.

Pelengkapnya pun bukan lontong atau nasi putih biasa. Makanan berbahan beras itu dipadukan dengan sayur lodeh krai (sejenis ketimun), dan di atasnya diberi tahu goreng setengah matang, kol, taoge, yang ditambah bumbu kacang seperti bumbu tahu gimbal. Namun, aroma jeruk purut lebih terasa pada bumbu yang diuleg langsung oleh penjualnya. Untuk tambahannya, ada pula tempe goreng, gimbal udang, bakwan jagung, dan kerupuk.

“Rasanya beda. Santannya kental, tapi tidak bikin eneg karena rasanya gurih manis. Pokoknya bikin ketagihan. Anak saya juga suka banget. Kami sering beli di sini,” ujar Sodik, warga Rembang yang dijumpai di warung Tenda Biru milik Jafar, di Jalan Kartini Rembang, Senin (22/5).

Diakui, sate serepeh sebagai makanan khas Rembang memang tak setenar lontong tuyuhan. Penjualnya pun kebanyakan di warung kaki lima. Dia berharap sate serepeh dapat lebih dikenal masyarakat, khususnya dari luar Rembang.

Sementara itu, Jafar (60) pedagang sate serepeh menyampaikan, keistimewaan sate serepeh ada pada daging ayam kampung sebagai bahan utama. Namun, daging tersebut tidak alot (liat) karena irisannya yang sangat tipis. Santan kental yang digunakan untuk memasak juga membuat tekstur daging lebih lunak dan gurih.

“Mungkin karena irisannya yang tipis, sate ini dinamakan serepeh,” ungkap warga Desa Sawahan Kecamatan Rembang ini.

Dia mengaku generasi keempat yang menjalankan usaha sate serepeh. Dan hingga kini, penikmat sate serepeh terus bertambah. Untuk mempertahankan kualitas dan keaslian sate tersebut, proses pemasakan dan penyajiannya pun tidak ada yang berubah. Tahu sebagai pelengkap disajikan dengan hangat karena langsung digoreng sesaat sebelum disajikan. Bumbu kacang sebagai pelengkap lontongnya juga langsung diuleg dengan tingkat kepedasan sesuai permintaan pembeli.

Harga sate serepeh juga tidak terlalu mahal. Per tusuknya hanya Rp 1.500. Penjual akan menghitung sate yang dikonsumsi pembeli berdasarkan tusuk sate yang dikumpulkan di piring kosong. Jadi, pembeli tak perlu memesan sate per sepuluh tusuk, melainkan tinggal ambil dan yang dihitung adalah sate yang dimakan. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn