Setara Tak Sebatas Persamaan Gender

Semarang – Menyebut kesetaraan, yang terngiang dalam benak sebagian besar masyarakat adalah kesetaraan gender. Tapi, bagi mahasiswa desain grafis, kesetaraan bisa diaplikasikan dalam banyak hal.

Lihat saja pada gelaran Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia ke-12 di Gedung UTC Jalan Kelud Raya, yang berlangsung mulai Kamis (2/11) sampai Sabtu (4/11) mendatang. Mereka memandang kesetaraan dalam bentuk yang beragam.

Mahasiswa dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta misalnya, yang menerjemahkan kesetaraan pendidikan di sekolah dasar negeri melalui “Kantin SDN Solo”. Menurut Suryo, mahasiswa UNS, konsep kantin dengan jajanan yang merakyat dalam satu gelaran di meja datar, menggambarkan kesetaraan pendidikan yang semestinya diperoleh di SDN. Jadi, seluruh SDN mesti mendapatkan perlakuan yang sama, baik yang di kawasan tengah kota maupun di perbatasan.

Berbeda lagi dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang menggambarkan kesetaraan di seluruh kalangan masyarakat, khususnya warga negara asing. Randi, mahasiswa ISI Surakarta menyampaikan, konsepnya dilatarbelakangi dari masih banyaknya warga Kota Surakarta yang terheran-heran dengan keberadaan orang asing. Beberapa di antaranya bahkan nekad meminta foto dengan para “bule” tersebut.

“Orang asing itu juga mungkin merasa risih karena dianggap berbeda. Karenanya, kami ingin menyetarakan semua manusia. Jargonnya, ‘Biasakanlah Bersahaja Tiap Kali Bertemu Orang’. Jadi, di sini kami juga membuat games, dengan mengubah wajah orang yang tampak di layar komputer ini menjadi wajah orang asing,” bebernya.

Ketua Panitia Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia ke-12, Stefanus Agusta Cahyandra menyampaikan event tersebut memang diselenggarakan untuk menunjukkan kreasi para desainer grafis muda dari seluruh Indonesia. Partisipasi mahasiswa desainer grafis pun luar biasa. Sedikitnya 56 perguruan tinggi se-Indonesia menampilkan karyanya.

Ditambahkan, pihaknya sengaja mengambil tema kesetaraan pada event tersebut. Sebab, setara tak berarti kesetaraan gender seperti anggapan orang. Namun bisa diartikan beragam.

“Sekarang ini kan kesannya kesetaraan itu hanya gender, persamaan hak antara pria dan wanita. Tapi sekarang tidak. Masing-masing dari peserta menggambarkan kesetaraan dalam banyak arti,” kata mahasiswa Fakultas Arsitektur dan Desain Unika Soegijapranata Semarang ini.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri mengapresiasi positif kreasi dari para mahasiswa. Sebab tidak mudah membuat karya seni yang indah dan bermakna. Ada pesan penting yang disampaikan kepada masyarakat melalui desain yang indah.

Setiap karya harus mampu menginspirasi, mengedukasi, dan memberikan kritik konstruktif. Selain itu, mereka juga mesti menghilangkan budaya menjiplak. Gubernur berharap para insan desain grafis bisa menjadi duta desain grafis bagi pembangunan republik ini, melalui desain grafis yang berbudaya dan membudayakan desain grafis lokal.

“Saya minta teman-teman di sini dapat membawa Jateng lebih berwarna dari yang orang kira. Saya nantikan karya-karya DKV untuk Jateng dan ajaklah masyarakat selalu berpikir out of the box, mari melihat dengan cara yang berbeda dan meneguhkan keindonesiaan kita,” tandas Ganjar. (Ul, Diskominfo Jateng)

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedIn