Sosialisasi Pilgub Jadi Tema Favorit

Rembang – Perbedaan latar belakang pada dua sosok calon pada kancah pemilihan Demang membuat kekisruhan. Salah satu calon anak seorang mantan Demang yang kaya raya beranggapan bahwa untuk menjadi Demang cukup dengan membeli suara rakyat.

Sediluk meneh ana pemilihan Demang, sing tak jaluk kowe kabeh melu aku. Yen kowe melu aku saben wong tak wenehi 100 ringgit,” ujar Darmaji salah satu calon Demang.

Lain dengan Wicaksono seorang rakyat jelata yang juga mencalonkan diri menjadi Demang, karena menginginkan kembalinya ketentraman kademangan di wilayahnya. Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat sang istri ragu jika suaminya mencalonkan diri menjadi Demang. Namun sang suami berusaha meyakinkan istrinya bahwa masyarakat sekarang sudah bisa melihat mana yang baik dan jujur.

Kawula saiki wis padha pinter. Dadi milih Demang kuwi ora perkara duit. Nanging milih Demang kuwi jujur tumindake ugo nggatekne marang rakyat, lan ora nindakake korupsi,” jelasnya pada sang istri.

Cerita pemilihan demang tersebut ditampilkan dengan apik oleh Tim Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Rembang pada Kegiatan Seleksi Pertunjukan Rakyat FK Metra di Kebon Seni, Desa Turus Gedhe, Kabupaten Rembang, Senin (23/4). Dibuka dengan Tari Gambyong, mereka tampak total mendiskripsikan kondisi yang dialami masyarakat menjelang pemilihan kepala daerah.

Tema Pemilihan Gubernur 2018 menjadi favorit pada seleksi yang diselenggarakan di lokasi ketiga, setelah sebelumnya seleksi dilaksanakan di Kota Pekalongan pada 7 April dan Kabupaten Boyolali pada 17 April lalu. Tiga tim lainnya, yakni FK Metra Batang, Kudus, dan Jepara juga mengangkat tema yang sama. Namun masing-masing tim memoles dengan cara yang berbeda.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dra Evi Sulistyorini MM menjelaskan, pelaksanaan seleksi kali ini diikuti oleh empat kabupaten, yaitu Kabupaten Rembang, Batang, Kudus, dan Jepara. Dia pun mengapresiasi para pelaku seni yang tetap setia melestarikan dan menguri-uri budaya melalui pertunjukan rakyat.

“Di era teknologi yang serba digital, banyak yang sudah abai pada pertunjukan rakyat dan kesenian tradisional. Bahkan ada yang tidak mengenal sama sekali. Tetapi saya senang, masih ada anak-anak bangsa yang peduli pada pertunjukan rakyat,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Bupati Rembang H Abdul Hafidz. Menurutnya, melalui FK Metra seni budaya tradisional bisa hidup dan jaya kembali. Apalagi seni budaya merupakan warisan nenek moyang yang bisa mempersatukan bangsa. Sehingga sudah semestinya seluruh anak bangsa melestarikan seni dan budaya.

“Seni budaya tidak hanya dijadikan sebagai seni pertunjukan, tapi bagaimana seni budaya dapat menjadi sarana informasi kepada masyarakat,” tambahnya.

Pada kegiatan ini juga dilaksanakan Deklarasi Antihoaks yang dibacakan seluruh anggota FK Metra, pelaku seni dan masyarakat maupun penonton yang mengikuti seleksi tersebut. (Di/Ul, Diskominfo Jateng)