Tak Sekadar Ikuti Perkembangan Zaman

Semarang – Era milenial menuntut Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak, RRI akan tertinggal oleh radio swasta dan perkembangan media sosial.

“Dahulu, RRI bisa menentukan sendiri program siaran, namun sekarang sudah tidak bisa lagi. RRI harus mendengar suara dari masyarakat dengan menampung aspirasi dari masyarakat,” terang Kepala LPP RRI semarang Drs Anhar Achmad SH MM MH MBA, saat membuka Rapat Pola Acara Siaran RRI Tahun 2019 “Eksistensi Media Komunikasi Radio di Era Milenial” di Auditorium RRI Semarang, Kamis (6/12).

Diakui, tantangan RRI tak sekadar mengikuti perkembangan zaman. Namun lembaga itu dituntut ikut melestarikan kebudayaan lokal. Padahal, pengaruh budaya asing membuat generasi muda kurang peduli untuk melestarikan kebudayaan daerah. Dia mencontohkan wayang dan gamelan belakangan ini kurang diminati generasi muda. Mereka lebih memilih bermain gawai.

“Untuk itu, tantangan RRI jelas kompleks. Selain dituntut bisa mengikuti zaman, kita juga harus bisa melestarikan budaya kita sendiri,” pinta Anhar.

Menanggapi hal tersebut, Rektor Universitas Diponegoro Semarang Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum mengungkapkan, tantangan ke depan memasuki revolusi industri 4.0 membuat negara menjadi borderless state. Jika tak mau kalah, RRI harus berubah.

Menurut Yos, sebenarnya RRI memiliki keunggulan yang tidak dimiliki media lainnya. RRI memiliki jangkauan siaran nasional dan internasional yang menjadi keunggulannya. Kekuatan konten yang terarah dan terukur juga menjadi keunggulan RRI.

“RRI perlu melakukan research untuk mengetahui kontain yang diharapkan oleh masyarakat, untuk itu Undip siap bekerja sama dengan RRI,” terangnya.

Selain itu, RRI merupakan lembaga penyiaran yang memberikan ruang kepada difabel untuk mengekspresikan diri. Sehingga, RRI dapat menjadi perekat bagi komunitas difabel.

“Saya salut dengan RRI karena bisa menjadi wadah bagi komunitas difabel, mereka bisa berkembang sekaligus menginspirasi masyarakat,” ungkap Yos.

Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri mengapresiasi RRI yang terus berbenah memperbarui program bagi pendengarnya maupun teknologi penyiaran yang modern. Diakui Dadang, dengan inovasi seperti radio Streaming hingga RRI.Net generasi muda akan mau kembali mendengarkan radio.

“Melalui radio streaming, akan mempermudah orang untuk mendengarkan siaran radio. Mereka tak lagi harus menggunakan radio player yang konvensional. Cukup menggunakan koneksi internet sudah dapat menikmati siaran favoritnya,” tandasnya. (Fh/Ul, Diskominfo Jateng)