Vagina, Aset yang Harus Dirawat

Semarang – Mendapati jerawat di wajah, kebanyakan wanita langsung heboh dan berupaya mengobatinya. Begitu pula jika menemukan rambutnya sudah bercabang, dia melakukan perawatan intensif. Namun, berapa banyak wanita yang merawat vaginanya?

Sekretaris Dharma Pertiwi Daerah D dr Angelia Azis menyampaikan, sejauh ini tak banyak wanita yang secara khusus merawat vaginanya. Padahal, vagina adalah organ reproduksi yang membutuhkan perlakuan khusus. Bahkan dia menyebut vagina potensial untuk memperkuat ketahanan keluarga, mengingat faktor seksual merupakan salah satu hal yang mempengaruhi ketahanan keluarga.

Wanita yang akrab disapa Inge ini menyitir data dari Kompas yang menyatakan keharmonisan rumah tangga 80 persennya dari ranjang. Untuk itu, dia menggerakkan kaum hawa agar menjadi agent perempuan sadar vagina (PSV).

“Vagina adalah aset yang harus dijaga dan dirawat agar bersih, sehat, elastis, kencang, dan menua lebih lama,” terangnya, saat Talkshow dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-90, di Pendapa Kota Magelang, Selasa (18/12).

Ditambahkan, deteksi dini terhadap kemungkinan kanker mesti dilakukan secara rutin dengan pemeriksaan pap smear dan Iva Test. Hati-hati terhadap produk yang mengandung sediaan kimia karena dikhawatirkan justru mengganggu keseimbangan flora normal atau bakteri baik yang ada di vagina. Gunakan celana dalam yang tidak menolak panas, dan bergantilah celana saat lembab. Bersihkan rambut pada vagina.

No pantyliners, karena penggunaan pantyliners menciptakan suasana romantis bagi bakteri. Bakteri jadi tambah nyaman. Penggunaan pembalut dilakukan enam jam sekali walau masih kosong. Cuci vagina sekurang-kurangnya tiga kali dengan cara membersihkan dengan sabun bayi, keringkan dengan tisu toilet,” beber Inge.

Suami, imbuhnya, mesti mendorong istri agar jadi agent PSV. Suami harus setia pada istrinya, sehingga istri akan terus menjaga vaginanya.

“Sejak bertemu, mempunyai anak, menua bersama, tetap dengan vagina yang itu-itu saja,” tandas perempuan berhijab itu.

Sementara, peneliti yang juga alumnus UGM, Bagus Setiawan Apt MSi, kebanyakan wanita kurang memiliki pengetahuan mengenai cara merawat vagina. Akibatnya, mereka cenderung terpengaruh iklan di media massa, termasuk membuat vagina berbau wangi.

“Sampai kapanpun vagina tidak bisa berbau wangi, karena vagina menghasilkan asam laktat, hydrogen peroksida, dan veromon. Kalau ibu keputihan, jangan sekali-kali bapak melakukan hubungan seksual. Kalau berhubungan oral pun bisa mengakibatkan sariawan, karena jamurnya sama, candida albicans,” katanya.

Bagus tak menampik jika hubungan seksual dengan suami atau istri menentukan ketahanan keluarga. Dari data yang ada, 90 persen angka perceraian diakibatkan suami tidak puas saat berhubungan seksual.

“Buat vagina Anda lebih lama dan umurnya tetap muda. Bagaimana pun PSV bisa untuk ketahanan negara. Suami bahagia, istri bahagia, atasan bahagia, semuanya bahagia,” tandas Bagus. (Ul, Diskominfo Jateng)