nonton layar tancap bak

Nonton Layar Tancap, Bak Diingatkan Pada Masa Kecil

Jepara – Waktu sudah melebihi pukul 22.00. Namun, Albi (4) masih terlihat menonton film Jenderal Soedirman, di lapangan Desa Dudakawu, Kec Kembang, Jepara, Selasa (26/3/2019).

Layar berukuran besar tersebut memang menarik perhatian bocah itu. Meski belum mengetahui alur cerita film perjuangan itu, dia tak beranjak dari tempatnya. Bukan di kursi yang disiapkan di bawah tenda, didampingi ibunya, Hanni (27), Albi memilih duduk santai di tembok pembatas lapangan.

“Ini pas melek. Tadi ketiduran sebentar karena takut nonton ketoprakan. Sekarang justru dia nggak ngantuk dan minta nonton film,” ujar Hanni.

Ibu satu anak ini pun tak keberatan mendampingi anaknya. Sebab, beberapa tahun belakangan ini tidak pernah ada acara nonton layar tancap di desanya.

“Mumpung ada, biar saja anak saya nonton. Rumah saya juga dekat,” katanya.

Berbeda dengan Albi yang ketakutan melihat penampilan kesenian tomprak (tongtek dan emprak) Komunitas Bares dari Desa Langon Kecamatan Tahunan Jepara, Angel (11), warga Dudakawu, justru menikmati tontonan tersebut. Bersama sang ayah Bambang (39) dan adiknya Sekar (2), gadis cilik itu berusaha mencerna dialog para pemain.

“Biasanya mereka nonton TV dan main handphone. Mumpung ada ini, saya ajak anak-anak. Sekalian mengenalkan kesenian tradisional,” ungkapnya sambil menggendong Sekar.

Ya, malam itu warga Desa Dudakawu dimanjakan dengan hiburan nonton bareng layar tancap dan pertunjukan tradisional yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Jepara.

Dalam kesempatan itu, Komunitas Bares menampilkan lakon Luru (mencari), yang menyisipkan pesan agar pada 17 April mendatang masyarakat menggunakan hak pilihnya dan mencari pemimpin yang baik. Mereka juga mengingatkan warga agar tak terpengaruh informasi atau berita hoaks. Usai penampilan Komunitas Bares, masyarakat bisa menyaksikan film Jenderal Soedirman melalui layar tancap.

Iril (26), warga setempat merasa pemutaran film tersebut mengingatkan pada kegiatan serupa saat dia masih berusia 10 tahun. Ketika itu Iril kecil datang bersama temannya di lapangan desa, duduk di rerumputan menonton layar tancap.

“Serasa diingatkan pada masa lalu. Seru sih, ramai pada nonton bareng,” ungkapnya.

Kegiatan itu juga mendapat apresiasi dari Japari (60), tokoh masyarakat yang juga pendiri kesenian gambus di Desa Dudakawu. Perpaduan tontonan kesenian tradisional dan layar tancap, menurutnya sangat pas di tengah kondisi sekarang, di mana masyarakat terbuai dengan kemajuan teknologi yang membuat mereka tak pernah lagi menonton bersama.

Kepala Diskominfo Jateng yang diwakili Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Setyo Irawan menyampaikan, selain menghibur acara ini juga untuk menyampaikan pesan yang bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Diakui, layar tancap menjadi idola di era 1980-an. Pertunjukan di zaman itu memang mengutamakan kebersamaan dan pesan moral dalam penyampaian informasi pembangunan daerah kepada masyarakat. Belakangan, seiring kemajuan teknologi, informasi lebih banyak disajikan melalui televisi, internet, media sosial, dan sebagainya, yang ditonton secara individual. Bahkan komunikasi dengan orang lain, termasuk dengan anggota keluarga, kebanyakan lewat WhatsApp.

“Dengan pertemuan ini, pesan informasi pembangunan yang disampaikan bisa dimengerti masyarakat. Hubungan individual antarmasyarakat bisa lebih erat, komunikasi makin akrab,” tandasnya. (Ul, Diskominfo Jateng)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *