IMG-20191022-WA0022

Mantapkan Investasi dengan Layanan “End to End”

BANDUNGAN – Triwulan II 2019, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp36,16 triliun, atau 76 persen dari target Rp47,42 triliun. Berbagai upaya terus dilakukan agar trimester akhir tahun ini dapat melampaui target tersebut.
Hal itu ditekankan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah Ratna Kawuri yang diwakili Kepala Bidang Pengelolaan Data dan Informasi Sucipto, saat membuka Forum Grup Discussion Kebutuhan Publikasi di Bidang Penanaman Modal dan Perizinan, di Hotel Wisata Nugraha, Bandungan, Senin (21/10/2019).  Menurutnya, peluang investasi yang dimiliki Jawa Tengah cukup besar dan mencakup hampir sebagian besar sektor usaha serta tersebar di 35 kabupaten/ kota. Antara lain, manufaktur, pertanian, perdagangan, pariwisata, properti, pertambangan, energi dan sektor jasa.
Ditambahkan, kegiatan investasi di Jawa Tengah tidak saja terfokus pada aspek pelayanan perizinan. Namun juga pada aspek regulasi, sumberdaya manusia, ketenagakerjaan, prasarana fisik, keamanan serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.
“Apalagi, Bapak Presiden menargetkan pertumbuhan ekonomi Jateng mencapai tujuh persen. Kata kuncinya, bagaimana memantapkan investasi, tidak hanya penanaman modal tapi juga sektor lain,” bebernya.
Kepala Bidang Pengaduan dan Peningkatan Pelayanan DPMPTSP Jateng Anung Suprihati menambahkan, sejak 2011-2018, realisasi investasi di provinsi ini menunjukkan pertumbuhan positif, dengan rata-rata pertumbuhan 56 persen per tahun. Survei kepuasan masyarakat pada 2019 pun rata-rata 88,09 persen.
Berbagai inovasi dilakukan untuk meningkatkan investasi, dengan memberikan layanan end to end bagi investor. Berbagai potensi investasi ditampilkan di berbagai media, termasuk website, agar menarik investor. Jika sudah ada ketertarikan, mereka akan memfasilitasi survei lokasi dan debottlenecking hingga pengurusan perizinan, termasuk memberikan pendampingan. Bahkan hampir semua perizinan bisa diakses melalui online.
“Kami melakukan berbagai inovasi, mulai membuka gerai investasi di lima kabupaten/kota, yakni Pati, Banyumas, Batang, Magelang, dan Tegal. Ada pula mobil keliling atau Jebol alias jemput bola OSS (Online Single Submission) yang melayani hingga pukul 02.00 dini hari. Kami juga membuka layanan pengaduan, baik yang datang langsung atau melalui media sosial,” ungkapnya.
Meski fokus pada investor besar, imbuh Anung, pihaknya tak mengesampingkan keberadaan UMKM. Sebab, berdasarkan aturan yang berlaku, para investor besar yang hendak menanamkan modal di Jawa Tengah juga diwajibkan memiliki UMKM binaan.
“Koordinasi dan sinergi juga terus ditingkatkan. Bagaimana pun, dalam peningkatan perekonomian dibutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk media, pelaku usaha, dan sebagainya. Together be better. Kami tekankan sekali lagi, dalam pelayanan perizinan tidak ada bayar-bayar. Kalau pun ada pembayaran ya terkait retribusi,” tandasnya.
Sementara itu, Pranata Humas Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Rieka Hapsari memberikan tips dan strategi publikasi, agar semakin menarik bagi investor. Konten atau isi materi yang diunggah mesti berkualitas, dengan konsep yang jelas sesuai target dan branding. Jenis media yang digunakan dan pemilihan waktu yang tepat juga menentukan persebaran informasi yang akan disampaikan.
“Konten mesti menarik, bisa ditambah dengan foto dan video menarik. Sebarkan melalui forum yang interesnya sama, serta rencanakan medsos dengan baik,” katanya. (Ul, Diskominfo Jateng)
   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *