22 10 Benteng Ambarawa

Fort Willem I, Eloknya Tangsi Belanda yang Berselimut Misteri

SEMARANG – Fort Willem I atau Benteng Pendem, di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, menjadi saksi bisu kolonialisme Belanda hingga tekad bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Kini, tangsi serdadu itu masih elok dikunjungi pelancong, meski berselimut misteri.
Benteng atau ‘beteng’ tinggalan Belanda itu, hingga kini masih kokoh berdiri di tengah persawahan Desa Lodoyong RT 07 RW 03.  Menuju lokasi benteng dapat melalui jalur lingkar Ambarawa atau dekat RSUD dr Gunawan Mangunkusumo. Cirinya, ada gapura berwarna kuning. Dari Kota Semarang, dapat ditempuh sekitar 1,5 jam, berkendara motor atau mobil.
Setelah sampai di tempat tersebut, pengunjung harus melalui Jl Kyai Mahfudh Salam atau Jl Benteng Dalam. Jalan tersebut terbilang kecil, kendaraan roda empat tak bisa jalan bersisihan. Bila tidak melewati tempat itu, bisa juga melewati kompleks militer dan Lapas Ambarawa. Namun tentu saja, harus diperiksa dengan ketat.
Sekitar satu kilometer dari gerbang berwarna kuning, warga setempat telah menyediakan tempat parkir. Untuk retribusinya, cukup membayar Rp5.000 per orang plus parkir.
Dari lahan parkir, yang langsung terlihat adalah lengkungan gerbang seperti lorong. Bangunan tersebut terlihat begitu kuna. Bagian dinding sudah nampak mengelupas di kanan kiri. Ada kesan seram namun, tak menghilangkan kesan kokoh, elok sekaligus menakjubkan.
Ketua RT 07 Desa Lodoyong Mahmudi menjelaskan, warga sekitar menyebut bangunan itu sebagai ‘beteng pendem’ atau benteng terpendam. Selain karena konstruksinya, lokasi benteng  ini pun berada di areal persawahan dan dipenuhi belukar.
Konon, saat pembangunannya, pondasi Benteng Pendem ditopang oleh balok-balok kayu jati berukuran besar.
“Ceritanya seperti itu, jadi bangunan ini layaknya kapal. Karena berdiri di tengah rawa. Jadi pas gempa Yogya, hampir tidak terasa, bangunannya pun masih utuh,” ucapnya.
Pensiunan sipir Lapas Ambarawa itu menyebut, peruntukan benteng ini berubah seiring zaman. Di awal pembangunannya, benteng ini diperuntukkan sebagai barak, gudang logistik sekaligus penjara. Ketika Jepang menduduki Jawa, bangunan ini dijadikan sebagai tahanan.
Seorang tokoh yang pernah ditahan di sini adalab seorang pejuang sekaligus ulama, yakni Kiai Mahfud Salam. Ia mendiami salah satu blok di Benteng Pendem, hingga akhirnya meninggal dunia dan dikebumikan di luar kompleks benteng.
“Ada kisah lain, saat pertempuran di Ambarawa atau Palagan Ambarawa yang dipimpin Soedirman (Jenderal Besar TNI), kawasan ini direbut oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat),” ujar Mahmudi, baru-baru ini.
Kini, kompleks benteng pendem masih digunakan sebagai Lapas IIA Ambarawa, rumah dinas sipir dan tentara, sekaligus tempat wisata. Ada sekitar 77 orang yang menghuni lantai dua benteng pendem. Sedangkan, di sisi lain ada ratusan narapidana kriminal dan narkoba yang menghuni lembaga pemasyarakatan.
“Kalau mau ke Benteng Pendem, hanya bayar Rp5.000 ribu per orang plus ongkos parkir. Setiap hari pasti ada pengunjung. Yang mengelola warga-warga yang tinggal di sini,” paparnya.
Menurut Mahmudi, nama benteng ini diambil dari nama Raja Belanda Willem Frederik Prins Vans Oranje-Nassau (1815-1840). Perlu 11 tahun (1834-1845) dengan ribuan pekerja, untuk menyelesaikan barak sekaligus gudang logistik yang mampu menampung 12.000 prajurit itu.
Keterangan Mahmudi, juga dikuatkan dengan penelitian ilmiah dari Jurnal ‘Ruang’ milik Universitas Diponegoro, pada 2016. Selain menampung serdadu, tempat ini juga untuk menyimpan logistik perang, mulai dari mimis, bedil, meriam, hingga kendaraan berat.
Adapula, kebutuhan makanan bagi ribuan narapidana yang ditahan di benteng itu.
“Bisa dibilang, benteng ini pusatnya logistik. Ada tank, peluru sampai makanan. Akses dari Ambarawa kan gampang jadi bisa kemana-mana dari sini, menggunakan kereta api,” paparnya.
Kerajaan Lelembut
Menurut Mahmudi, Benteng Pendem ramai dikunjungi warga tiap hari. Puncaknya pada libur akhir pekan atau libur nasional. Kebanyakan, mengambil foto diri berlatar gedung kuna.
Namun, dibalik keelokan Fort Willem I, tersimpan misteri yang hingga kini menyelimuti benteng itu. Bagi mereka yang memiliki indera keenam, tempat itu layaknya kerajaan lelembut.
“Kalau orang yang bisa melihat, di sini itu kerajaannya. Ada penampakan orang dengan luka disekujur tubuh, merintih dan meminta tolong. Intinya, mereka mau didoakan,” terang Mahmudi.
Hal itu menurutnya, merupakan gambaran dari masa pembangunan Fort Willem yang banyak melibatkan warga sekitar. Sayang, banyak perlakuan tak manusiawi yang didapatkan oleh pekerja, hingga tewas.
Menurut Mahmudi, jika ada penghuni baru di lingkungan RT 07, selalu saja ada yang ‘memperkenalkan diri’. Bentuk perkenalan itu bermacam-macam, mulai dari dijahili hingga menampakkan wujud.
“Istri saya dulu pernah dilihatkan, seperti ada orang yang masuk menuju rumah saya. Tapi ternyata tidak ada. Bahkan ada yang menyaru jadi salah satu warga, persis sekali. Dulu juga ada yang berkemah kemudian kesurupan,” paparnya.
Kesan horor Benteng Pendem Ambarawa, tak menjadikan pesonanya luntur. Pada 2013 silam, tempat ini pernah dijadikan lokasi syuting film arahan Hanung Bramantyo berjudul ‘Soekarno’. Pertimbangannya, karena struktur bangunan yang masih asli dan kokoh khas negeri Kincir Angin.
Seorang pengunjung Indrawati, mengaku senang berkunjung ke Benteng Pendem. Ia mengaku sudah kali keempat mengunjungi lokasi ini bersama teman-temannya.
“Karena konon ini bersejarah sebagai penjara ketika kita dijajah Belanda. Harapannya, lebih banyak disediakan tempat sampah dan mohon kesadaran dari pengunjung,” ujarnya.
Ditanya mengenai pengalaman mistis mengunjungi tempat ini, ia bilang tak pernah merasakannya.
“Kalau saya sih orang awam tidak pernah merasakan. Tapi pas berkunjung sama teman, dia pernah merasa bagaimana gitu, soalnya teman saya itu peka,” pungkas Indrawati. (Pd/Ul, Diskominfo Jateng)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *