Onclong, Tradisi Ronda Bangunkan Warga Sahur di Banjarnegara

Onclong, Tradisi Ronda Bangunkan Warga Sahur di Banjarnegara

BANJARNEGARA – Masih dini hari, belasan orang yang mayoritas pemuda berkumpul di Poskamling yang berada di sudut perempatan Desa Sered, Keacamatan Madukoro, Banjarnegara, Kamis (21/4/2022) sekira pukul 01.30 WIB. Mereka menyiapkan sejumlah alat musik, baik yang tradisional, modern, bahkan barang bekas yang dapat menimbulkan bunyi-bunyian.

Ya, malam itu seperti malam-malam sebelumnya di bulan Ramadan. Mereka hendak menggelar Onclong, tradisi ronda untuk membangunkan warga sahur. Onclong berupa tetabuhan atau musik yang dimainkan sambil berjalan keliling ke rumah-rumah warga. Tidak ada yang tahu persis tradisi ini dimulai, namun diyakini Tradisi Onclong selalu ada tiap Ramadan.

Tokoh pemuda Desa Sered, Aris Budiawan, menuturkan, Onclong biasanya mulai dilaksanakan tiap pukul 02.30 WIB bertujuan membangunkan warga untuk sahur. Ini dilakukan sejak kali pertama bulan Ramadan sampai menjelang lebaran nanti.

“Kami setiap jam setengah tiga (pukul 02.30) mulai membangunkan warga sahur dari Ramadan pertama sampai sekarang, masih berjalan terus, kegiatannya tabuhan. Kalau di sini namanya Onclong, yaitu ronda membangunkan sahur,” ujarnya.

Menurut Budi, sapaannya, alat musik yang digunakan Tradisi Onclong tidak ada ketentuan khusus. Dulu, biasanya menggunakan alat pukul seperti beduk dan kentongan. Namun, untuk saat ini berkembang ditambah dengan angklung, drumband, kendang, dan sebagainya.

“Alat musik sebenarnya tidak ditentukan, ya apa yang ditemukan dan bisa digunakan. Kalau tahun ini ada angklung, kendang, kentongan, beduk. Kalau dulu waktu belum ada alat kami menggunakan beduk yang ada di musala dan kentong,” paparnya.

Bukan hanya alat, cara penyajian musiknya pun sudah mengalami perkembangan. Yakni ditambah dengan lagu atau syair agar lebih rapi dan nyaman didengarkan. Di Desa Sered, ada lagu andalan untuk membangunkan orang sahur, seperti “Dawet Ayu”, “Sahur”, serta “Prahu layar”.

“Ada lagu-lagunya, biasanya lagu selawat, prahu layar, lagu sahur, dan seenaknya kita saat keliling sambil nabuh alat,” imbuhnya.

Meski dengan lagu, mereka tidak membutuhkan latihan khusus untuk mengaransemen lagu-lagu tersebut. Terpenting, baginya adalah dapat membangunkan orang tidur agar bisa sahur, sehingga menjalani puasa dengan maksimal.

“Yang main dari kalangan pemuda, kadang sepuluh (orang), dua belas orang, atau bahkan empat orang saja, tapi tetap jalan. Tidak ada latihan, hanya spontanitas. Latihannya ya sambil jalan itu,” ucap Budi.

Diakui, Tradisi Onclong pernah terhenti di dua bulan Ramadan sebelumnya, akibat pandemi Covid-19. Untuk itu, ia berharap untuk tahun ini dan ke depan, Onclong dapat terus dilaksanakan.

“Yang bisa kita perbuat salah satunya adalah membangunkan orang sahur, semoga dengan begitu kita mendapat berkah di bulan Ramadan. Dua tahun lalu sempat ditiadakan karena pandemi. Nah, sekarang sudah bisa lagi. Semoga semakin ramai di tahun-tahun berikutnya,” tandasnya. (Wk/Ul, Diskominfo Jateng)

 Save as PDF

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *